Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for September, 2008

Ultah Kakak Tanpa Kakak

Hari ini, andaikan Kakak masih ada, genap 9 tahun usianya. Semalam hati sudah gelisah, ada sesuatu yang tertahan. Hingga tadi pagi Bu Ning, Bunda Eha dari Cilacap, sahabat Kakak semasa sekolah di BIAS menelpon. Eha ingin mengatakan sesuatu, namun tak terdengar kalimatnya yang terbata-bata. Ibu akhirnya mengucapkan selamat ulang tahun buat Eha Kak, semoga diberi kesehatan n jadi anak shalihah, sehingga selalu bisa berdoa buat Dea. Bunda Eha bilang selalu mendoakan Dea n memberi semangat untuk selalu berdoa n berserah diri.

Sembilan tahun lalu, kira-kira jam sepagi ini (08.35) Kakak lahir dari rahim Ibu. Siapa yang menduga ya Kakak yang kelihatan sempurna bagi kami ternyata hanya sesaat saja dititipkan. Hingga saat ini… di sini…. sembilan tahun kemudian, jadilah hari ini… ultah Kakak tanpa Kakak. Eh Kak.. semalam dik Taj usul lho.. katanya gimana kalau kita rayakan n berdoa di makam Kakak saja? Doa kami dari sini, semoga Kakak bahagia di tempat baru ya…. Amin.. amin.. ya rabbal aalamiin.

In Memoriam Mr Bob Rusli Tjetjep

Hari ini genap 40 hari meninggalnya pimpinan terbaik yang pernah saya miliki,  Bp Bob Rusli Tjetjep. Nama yang tidak ada cacatnya dalam kancah perteriguan dan perganduman Indonesia dan internasional. Dari beliaulah saya banyak belajar hingga menjadi seperti sekarang ini. Bukan hanya belajar teknis pekerjaan namun juga kepemimpinan dan sikap. Sosok beliau tidak hanya mewarnai kehidupan pribadi saya, namun juga keluarga saya. Karena bagaimanapun Pak Bob, begitu kami memanggilnya, bukan hanya Bapak dalam saya bekerja namun juga akrab sebagaimana layaknya keluarga.

Secara pribadi, Pak Boblah orang pertama curhat saya sewaktu Kakak sakit. Beliau yang menguatkan hati saya, meskipun kalau beliau tanya kabar Kakak waktu itu atau saya ijin ke rumah sakit, selalu ada air bening di matanya.

Kepergian Pak Bob persis 4 bulan setelah Kakak dipanggil Allah, hari Minggu 3 Agustus 2008. Juga berbarengan dengan meninggalnya keponakan tercinta saya di Batang, adik Hafiz Bahtiar yang masih berusia 13 bulan. Bagi saya dan suami, seolah kematian sangat dekat dengan kehidupan kami sekarang. Kami tidak pernah mengira dan bahkan masih tak percaya kalau orang-orang yang dekat dengan kami sudah dipanggil lebih dahulu menghadap Sang Khalik.

Dalam hal pekerjaan, Pak Boblah suri tauladan bagi semua anak buahnya, profesional dalam bekerja, tidak membeda-bedakan, kekeluargaan, berpihak pada manajemen namun sangat mementingkan kesejahteraan karyawan. Mendasarkan kecintaan pada pekerjaan, loyalitas tanpa pemaksaan, rasa memiliki, dan totalitas bekerja demi perusahaan di mana beliau memimpin.Pemikiran seorang Bob Rusli sangatlah luas dan global, sangat nasionalis, dan berpikir bagi orang banyak.

Kebersamaan saya bersama beliau dalam bekerja kurang lebih 12 tahun. Hal yang sekarang sangat-sangat saya ingat dan telah beberapa kali saya praktekkan dari beliau adalah “Ambillah selalu kesempatan yang datang dalam hidupmu. Kamu tidak akan tahu apakah itu kesempatan bagimu atau tidak tanpa kamu pernah mencobanya. Kesempatan itu hanya sekali saja datang dalam hidupmu, jadi gunakanlah sebaik-baiknya.”

Hingga saat ini pun kadang masih terbersit rasa tak percaya kalau beliau sudah tiada. Kebiasaan ngobrol di kantor kalau pas lagi senggang juga sering terlintas. Cara tertawa beliau termasuk cara marahnya yang beberapa tahun ini memang tidak segarang dulu lagi (hhmm…). Tapi begitulah Pak Bob, habis marah, masalah terselesaikan n tak ada dendam di hati beliau.

Hingga detik-detik terakhir kepergian beliau pun tak ada tanda khusus kalau beliau akan meninggal secepat ini. Semangat kerjanya masih besar sekali, banyak hal yang masih ingin beliau kerjakan n perjuangkan. Namun Allah Maha Segalanya, Dialah yang berhak atas hidup mati seseorang.

Selamat jalan Pak Bob, semoga Tuhan membukakan jalan. Bagi pribadi sebaik Pak Bob, dengan begitu banyak orang yang mencintainya, Insya Allah terbuka pintu surga-Nya. Amin.

Related post, silahkan baca juga: http://yb3td.wordpress.com/2008/08/07/minggu-yang-kelabu/

Ketika Allah Berkata Tidak

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.”
Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.”
Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah beri aku kesabaran.”
Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah beri aku kebahagiaan.”
Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.”
Allah berkata, “Tidak. Read more… »

Dahulu kala ada dua orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal:
- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu
- Kedua: Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: Read more… »

Ramadhan Tanpa Kakak

Sepi .. gak ada Kakak. Kemarin pagi Ibu mimpi rasanya Kakak masih ada. Sepertinya hari Sabtu-Senin libur. Tapi kok Kakak sepertinya dititipkan di sekolah, padahal kita sudah berencana mau ke Cilacap. Sudah gitu harus jemput dik Taj di Semarang. Dalam mimpi dik Taj sudah kelihatan siih… Ibu ngoyak-ngoyak Bapak yang gak segera siap-siap buat jemput Kakak. Tau sendiri kan, Bapak emang suka gitu orangnya, gak on time (waktu Indonesia bagian Ibu, he..he..). Ibu sampe marah-marah ngebayangin Kakak yang pasti udah nungguin kita-kita. Tapi yaa.. belum sempet berangkat n ketemu Kakak, Ibu sudah bangun deh….. Duh.. gak jadi ketemu..

Read more… »

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta