Hari ini genap 40 hari meninggalnya pimpinan terbaik yang pernah saya miliki, Bp Bob Rusli Tjetjep. Nama yang tidak ada cacatnya dalam kancah perteriguan dan perganduman Indonesia dan internasional. Dari beliaulah saya banyak belajar hingga menjadi seperti sekarang ini. Bukan hanya belajar teknis pekerjaan namun juga kepemimpinan dan sikap. Sosok beliau tidak hanya mewarnai kehidupan pribadi saya, namun juga keluarga saya. Karena bagaimanapun Pak Bob, begitu kami memanggilnya, bukan hanya Bapak dalam saya bekerja namun juga akrab sebagaimana layaknya keluarga.
Secara pribadi, Pak Boblah orang pertama curhat saya sewaktu Kakak sakit. Beliau yang menguatkan hati saya, meskipun kalau beliau tanya kabar Kakak waktu itu atau saya ijin ke rumah sakit, selalu ada air bening di matanya.
Kepergian Pak Bob persis 4 bulan setelah Kakak dipanggil Allah, hari Minggu 3 Agustus 2008. Juga berbarengan dengan meninggalnya keponakan tercinta saya di Batang, adik Hafiz Bahtiar yang masih berusia 13 bulan. Bagi saya dan suami, seolah kematian sangat dekat dengan kehidupan kami sekarang. Kami tidak pernah mengira dan bahkan masih tak percaya kalau orang-orang yang dekat dengan kami sudah dipanggil lebih dahulu menghadap Sang Khalik.
Dalam hal pekerjaan, Pak Boblah suri tauladan bagi semua anak buahnya, profesional dalam bekerja, tidak membeda-bedakan, kekeluargaan, berpihak pada manajemen namun sangat mementingkan kesejahteraan karyawan. Mendasarkan kecintaan pada pekerjaan, loyalitas tanpa pemaksaan, rasa memiliki, dan totalitas bekerja demi perusahaan di mana beliau memimpin.Pemikiran seorang Bob Rusli sangatlah luas dan global, sangat nasionalis, dan berpikir bagi orang banyak.
Kebersamaan saya bersama beliau dalam bekerja kurang lebih 12 tahun. Hal yang sekarang sangat-sangat saya ingat dan telah beberapa kali saya praktekkan dari beliau adalah “Ambillah selalu kesempatan yang datang dalam hidupmu. Kamu tidak akan tahu apakah itu kesempatan bagimu atau tidak tanpa kamu pernah mencobanya. Kesempatan itu hanya sekali saja datang dalam hidupmu, jadi gunakanlah sebaik-baiknya.”
Hingga saat ini pun kadang masih terbersit rasa tak percaya kalau beliau sudah tiada. Kebiasaan ngobrol di kantor kalau pas lagi senggang juga sering terlintas. Cara tertawa beliau termasuk cara marahnya yang beberapa tahun ini memang tidak segarang dulu lagi (hhmm…). Tapi begitulah Pak Bob, habis marah, masalah terselesaikan n tak ada dendam di hati beliau.
Hingga detik-detik terakhir kepergian beliau pun tak ada tanda khusus kalau beliau akan meninggal secepat ini. Semangat kerjanya masih besar sekali, banyak hal yang masih ingin beliau kerjakan n perjuangkan. Namun Allah Maha Segalanya, Dialah yang berhak atas hidup mati seseorang.
Selamat jalan Pak Bob, semoga Tuhan membukakan jalan. Bagi pribadi sebaik Pak Bob, dengan begitu banyak orang yang mencintainya, Insya Allah terbuka pintu surga-Nya. Amin.
Related post, silahkan baca juga: http://yb3td.wordpress.com/2008/08/07/minggu-yang-kelabu/
