Membaca cerita di bawah ini membuat saya teringat akan Kakak. Sekilas mengelibat dalam pikiran saya, bahwa saya dulu salah berdoa, waktu dokter menyatakan hanya Tuhan yang tahu kapan kondisi Kakak akan berakhir, saya n suami pasrah berdoa memohonkan yang terbaik buat bunga hati kami. Meskipun di awal sakit Kakak hingga malam diambilnya Kakak, saya ngotot memohon mukjizat kesembuhan anak kami kepada-Nya. Suami saya mengaktifkan kebiasaannya berderma dalam bertaqarrub kepada Allah. Namun beberapa jam menjelang kepergian Kakak, kami memang pasrahkan kepada Allah untuk mendapatkan apa yang terbaik.
Astaghfirullaah…. jangan-jangan saya kembali menjadi tidak ikhlas gara-gara membaca cerita di bawah ini. Menyesali mengapa kami tidak memohon mukjizat kesembuhan. Ataukah memang Allah telah menghendaki kepergian Kakak? Subhanallaah…. Hanya Allah yang Tahu dan Berkehendak. Saya pun seakan kembali kepada ketidakrelaan. Semoga Allah mengampuni apa yang yang saya rasakan.
__________________________________________________________________________
Jika Dokter Mengatakan “Tidak Ada Harapan”




