Archives for December, 2008
Posted on 2008 under Uncategorized |
22
Dec
Some women are more special than they know
Some women are special for things that they do,
Still others for all of the joy that they give.
There are those who stand out for the kindness they show
And for making our lives such a pleasure to live…
But then there are women wonderful few
Who have all these tallents and that would be you…
Happy Mother’s Day
Source: Jasmine N .
Buat semua ibu n perempuan Indonesia, Selamat Hari Ibu.. semoga selalu bisa memberikan yang terbaik buat keluarga n masyarakat, menjadi pejuang sejati dengan kasih sayang n keikhlasan.
Posted on 2008 under Kakak |
22
Dec
Sempat kaget n kepikiran berita gak bagus sewaktu pagi ini dapat telpon dari sekolah Taj n ustadzahnya bilang “Ma.. Mbak Taj mau bicara”. Ternyata di seberang telpon terdengar suara cempreng,”Ibu…Selamat Hari Ibu ya…, Maafkan Taj selama ini suka nakal. Taj sayang Ibu, Taj love Mama…” Duh.. speechless jadinya, tercekat n gak bisa jawab apa. Cuman terbayang.. jangan-jangan di-loud speaker sama Ustadzah, ya finally can say,” Ya, terima kasih Taj.. Ibu love Tataj juga”
Lepas itu termenung sejenak, menghela napas panjang, menahan jangan sampai termehek-mehek, secara masih di kantor nih.. Hari ini 22 Desember.. ya.. Hari Ibu.. Setahun lalu masih dapat kartu ucapan dari Kakak yang dia buat n print sendiri dari komputer, meski amplopnya Ibu yang nge-print. Ada “pinky love” n ucapan selamat hari Ibu dari Dea dan Taj, begitu tulisannya.
Akhir-akhir ini memang kekangenan ke Kakak menjadi-jadi. Ingat tingkahnya yang centil n ceria namun juga dewasa. Mempertimbangkan Taj masuk SD yang mana pun, bayangan Kakak selalu ada. Di hati kecil memang berharap ada diri Kakak dalam Taj. Namun keduanya memang berbeda n punya keunikan sendiri. Duh.. kapan ya bisa ketemu Kakak? Hari Ibu tahun depan kah?
Posted on 2008 under Renungan |
15
Dec
By: Ratih Sanggarwati
Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis: “Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”
Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah: “Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir: “Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah….”
Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku sudah mulai sekolah: “Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku sudah beranjak remaja: “Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yg mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku menjadi dewasa: “Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah: “Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan: “Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagai ibu dari ibunya cucuku.”
Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata….. . “Engkau ingin suami yang baik dan sholeh sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah? Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?” “Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu. Jangan egois begitu…… .. masak engkau ingin anak yang sholehah hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. …tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.” “Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?…… prestige? …….. atau….mode? ….atau engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya? engkau juga harus belajar, engkau juga harus bermoral Islami, engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya. ” “Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat? Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku.” “Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu, seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku. Percayalah kalau anakmu adalah anak yang sholihah maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.” “Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu. Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya. Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. .. ” “Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu, berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”
Lantas…… aku malu…… dengan imajinasi do’a-ku sendiri…. Aku malu akan tuntutanku kepada-NYA.. ….. Maafkan aku ya Allah……
Posted on 2008 under Kakak |
11
Dec
Hari ini dapat teman baru via salah satu milis yang saya ikuti. Uniknya… kita-kita harus diputarkan dulu lewat dunia maya, ternyata masih satu kompleks perumahan tinggalnya, he..he.. Ternyata juga putra-putri teman baru ini sekolah di SD yang sama dengan Kakak. Ternyata juga, sang teman ini berteman dengan ibunda siswa SD yang sama yang juga meninggal dengan sakit yang sama dengan Kakak. Sakit yang sama, nama panggilan yang sama, nama panggilan ayah yang hampir sama, nomor telpon rumah yang hampir sama. Duh… semua jadi mengingatkan deh… Betapa sempitnya dunia…. Or semua ini memang sudah diatur dari Sananya ya?
Dunia yang sempit or sayanya yang kuper yach? Tiba-tiba kok jadi teriris lagi ni membayangkan Taj, si centil, minta sekolah di SD kakaknya dulu. Sudah sanggupkah saya keluar masuk gerbang sekolah itu lagi? Meski tadinya saya n hubby sudah sepakat buat mengedepankan kepentingan Taj daripada perasaan kami, tapi dengan sempitnya dunia tadi, memaksa saya berpikir ulang. So.. let’s see deh.
Posted on 2008 under Renungan |
3
Dec
Sebuah hikmah kehidupan yang patut direnungkan. Saya terima dari salah satu milis dan sesaat tercenung karena belum mampu berkaca dari seorang tukang bakso. (Astaghfirullaah… ) Sahabat, cerita ini sangat sederhana. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amin
__________________________________________________________________________
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat.
Sambil menyeka keringat…, kuhentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso ? “Mauuuuuuuuu. ..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya…. Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan di laci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?” “Iya Pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain/tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman”.
“Maksudnya.. .?”, saya melanjutkan bertanya.” Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan Insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si Emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”. Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak Pak RT atau Pak RW, bukan hak Pak camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah definisi di mana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya Kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan Dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”. “Masya Allah…,sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.