Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for January, 2009

The Key of Happiness

By Gede Prama – Dari salah satu milis

Gede Prama memulai talkshow dengan bercerita tentang tokoh asal Timur Tengah, Nasruddin. Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuhdengan pasir. Ternyata dia mencari jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari, jarum itu tak ketemu juga.
Tetangganya bertanya, “Jarumnya jatuh dimana?”
“Jarumnya jatuh di dalam,” jawab Nasruddin.
“Kalau jarum bisa jatuh di dalam, kenapa mencarinya di luar?” tanya tetangganya.
Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab, “Karena di dalam gelap, di luar terang.”

Begitulah, kata Gede Prama, perjalanan kita mencari kebahagiaan dan keindahan. Sering kali kita mencarinya di luar dan tidak mendapat apa-apa. Sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagiaan dan keindahan, sebenarnya adalah daerah-daerah di dalam diri. Justru letak ’sumur’ kebahagiaan yang tak pernah kering, berada di dalam. Tak perlu juga mencarinya jauh-jauh, karena ’sumur’ itu berada di dalam semua orang. Sayangnya karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya, banyak orang mencari sumur itu di luar.
Ada orang yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus atau rumah indah. Tetapi kenyataannya, setiap pencarian di luar tersebut akan berujung pada bukan apa-apa. Karena semua itu, tidak akan berlangsung lama. Kulit, misalnya, akan keriput karena termakan usia. Mobil mewah akan berganti dengan model terbaru. Jabatan juga akan hilang karena pensiun.
Setiap perjalanan mencari kebahagiaan dan keindahan di luar, akan selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan, berangkat dari mencarinya di luar

Untuk mencapai tingkatan kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, seseorang harus melalui 5 ( lima ) buah ‘pintu’ yang menuju ke tempat tersebut.

Pintu pertama adalah stop comparing, start flowing. Stop membandingkan dengan yang lain.
Seorang ayah atau ibu belajar untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, dimulai dari membandingkan.

Gede Prama mencontohkan orang kaya berkulit hitam yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa dia berkulit hitam. Orang itu sering kali membandingkan dirinya dengan orang kulit putih. Uangnya banyak, ia mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik. Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan lain,
maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang orang kaya itu. Leads you nowhere

Karena itu, Gede Prama mengajak kita ke sebuah titik, mengalir (flowing) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia yaitu menjadi diri sendiri. Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja. Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul. epercayaan diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita angun dari dalam. Tidak ada kehidupan yang paling indah dengan menjadi diri sendiri. Itulah keindahan yang sebenar-benarnya!

Pintu kedua menuju keindahan dan kebahagiaan adalah memberi.
Sebab utama kita berada di bumi ini, kata Gede Prama, adalah untuk memberi. Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak
Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan: I intend good, I do good and I am good – Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik, kemudian saya menjadi orang baik.
Yang baik-baik itu bisa kita lakukan, bila kita konsentrasi pada hal memberi. Memberi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pemberian dapat berbentuk senyum, pelukan, perhatian. Dan setiap manusia yang sudah rajin memberi, dia akan memasuki wilayah beauty and happiness.
“Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi, ada yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi muka orang itu keringnya mintaampun. Orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya,apa rahasia kehidupan yang paling penting yang bisa saya bagi. Saya bilang sleep well, eat well. Artinya memang, untuk ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. Hanya saja orang sering kali memperumit hal yang sudah rumit. Kalau kita sederhanakan, sleep well, eat well akan jadi mudah jika diikuti dengan kegiatan memberi.

Pintu ketiga untuk menuju keindahan dan kebahagiaan adalah berawal dari semakin gelap hidup Anda, semakin terang cahaya Anda di dalam.
Perhatikanlah bintang di malam hari tampak bercahaya, jika langitnya gelap. Sedangkan, lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangannya gelap. Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan cobaan dalam hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam. Jika Anda punya suami yang keras dan marah-marah, jangan lupa bersyukurlah. Karena suami yang keras dan marah-marah, membuat sinar dari dalam diri Anda bercahaya. Anda punya istri cerewetnya minta ampun, bersyukurlah karena orang cerewet adalah guru kehidupan terbaik. Paling tidak dari orang cerewet kita belajar tentang kesabaran. Jika Anda punya atasan diktatornya minta ampun, bersyukurlah. Karena Anda dapat belajar tentang kebijaksanaan

Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan dan kebahagiaan, menurut Gede Prama, biasanya telah lulus dari universitas kesulitan. Semakin banyak kesulitan hidup yang kita hadapi, semakin diri kita bercahaya dari dalam.

Mengutip perkataan Jamaluddin Rumi, semuanya dikirim sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan. Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga berguna. Gunanya adalah karena orang jelek, orang cantik terlihat jadi tambah cantik. Jadi semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya-cahaya beauty and happiness.

Pintu keempat adalah surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah rangkaian sikap.
Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan godaan, maka neraka tidak ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu sekarang Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap Anda benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatunya, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be allright. Setiap kali kita melalukan ritual peribadatan, tetapi setiap kali pula kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk ketidakyakinan terhadap kebenaran. Kalau Anda melalukan ritual peribadatan tapi masih takut, mending jangan melalukan ritual peribadatan, karena toh Anda tidak yakin terhadap kebenaran. Segala sesuatunya menjadi baik-baik saja jika Anda mencintai yang kecil.

Pintu kelima menuju keindahan dan kebahagiaan yakni tahu diri kita dan kita tahu kehidupan.

Manusia-manusia yang tidak tahu diri, adalah manusia yang tidak pernah ketemu keindahan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sumur kehidupan yang tidak pernah kering berada di dalam. Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya, kalau kita bisa mengetahui diri kita sendiri. Seandainya diri sendiri telah ditemukan, maka artinya kita kemudian mengetahui kunci kebahagian hidup itu sendiri.

15 Januari Setahun Lalu

15 Januari setahun yang lalu. Masih jelas dalam rekaman, hari Selasa. Lepas shalat Subuh, Kakak muntah-muntah n mengeluh pusing. Ada ibu mertua, adik, n keponakan dari Cilacap yang baru datang malam sebelumnya. Saya yang belum ‘ngeh’ dengan gejala sakit itu, mengurus Kakak sebentar sebelum akhirnya ke kantor. Sempat ke sekolah Kakak untuk memintakan ijin gak masuk sekolah. Masih terpikir Kakak masuk angin biasa, hingga masih setengah jam di kantor, SMS dari hubby tentang kondisi Kakak yang tidak biasa. Segera pamit Bos di kantor n meluncur pulang ke rumah, selanjutnya ke UGD n … so on… so on…. Berawallah kisah Kakak dari situ hingga dipanggilnya kembali 3 April 2008.
Nggak pengin mengingat-ingat sebetulnya, tapi entah kenapa bayangan itu melintas terus. Secara dulunya saya kan suka mengingat tanggal beserta memorinya. Duh.. tapi yang ini bener-bener memori yang menyayat hati. Yang teringat sekarang seringnya adalah keriangan Kakak, berseragam SD-nya, celoteh n ceritanya di kala sehat n menikmati sekali hari-hari sekolahnya di Gresik.
Nggak pengin mengingat-ingat sebetulnya, tapi kenapa saya jadi gak suka tidur sendiri. Harusnya Taj sudah belajar untuk tidur sendiri supaya dia mandiri n juga gak merasa tersisihkan begitu adiknya lahir. Tidur sendiri seakan membuka kesempatan otak untuk menari dengan memori setahun lalu.
Nggak pengin mengingat-ingat sebetulnya, tapi hari-hari ini harus memutuskan Taj sekolah di mana. Jujur saya masih ingin Taj sekolah di tempat Kakaknya dulu. Selain sudah sreg dengan kurikulum n guru-gurunya, saya kok jadi pengin lihat Taj berseragam seperti Kakaknya. Tapi… lagi-lagi keraguan, sudah sanggupkah saya n terutama my hubby sliweran di sekolah itu? Hik..hiks…
15 Januari setahun lalu. Nggak pengin mengingat-ingat sebetulnya. Tapi hari-hari sesudah itu kok rasanya hampa n kosong. Kalo dalam hubungan suami istri.. dua bukan lagi satu.. satu bukan lagi dua… he..he.. (bingung maksude apa?). Yang ada ya larut dalam dunia n rasa sendiri-sendiri.
Kakak yang sudah tenang di sana…. Masih suka pusing gak? Ibu kangen nih…

Baca juga: Hari Ini, Setahun Yang Lalu

Pernahkah Anda merasakan betapa sesaknya hati n dada dihimpit bongkahan batu yang suangat suangat besar? Mau bernapas susah, mau menangis pun sesak. Yup..minggu kemarin kami merasakannya. Berawal dari Taj anak kami yang tiba-tiba muntah malam-malam tanpa sebab. Yang cara muntahnya mengingatkan saya pada kejadian Kakak setahun lalu. Keesokan harinya sih looks like oke. Tapi peristiwa berlanjut 2 hari kemudian, tanpa sebab pun (even batpil, panas, demam) Taj mengeluh sakit kepala tiada hanti, seharian. Duh.. dheg plas.. Ditambah lagi kalo lihat riwayat dia, saat umur 2 tahun pernah terjatuh dari tangga lantai 2 n dijahit kepala bagian sampingnya, trus waktu umur 4 tahun juga pernah jatuh, meski sepertinya bukan bagian belakang kepala yang terkena langsung. Atas dasar itu, ditambah dengan keinginan lama kami untuk me-MRI-kan Taj just for conform, ditambah lagi setelah konsultasi dengan kakak sepupu yang Radiolog di Yogya, menghadaplah kami (.. eh.. ayahnya saja dhing..) ke dokter ahli bedah syaraf yang dulu menangani Kakak. Atas dasar rujukan beliau, disepakai cukup dilakukan CT Scan (bukan MRI) n tanpa kontras dulu.
Ehm.. menunggu saat-saat konsultasi dokter n keputusan hasil CT Scan itulah himpitan batu besar itu kami rasakan. Bagaimana tidak? Hampir setahun lalu. Tanggal-tanggal yang nyaris mendekati 15 Januari saat Kakak tiba-tiba muntah n tak sadarkan diri disusul serentetan peristiwa sedihnya. Hhmm… benar-benar, tak mampu lagi saya berkata-kata. Hingga sempat tercetus, kalo sampai terjadi apa-apa dengan Taj, saya sudah gak tau lagi apa yang akan terjadi dengan diriku, tak kan ada lagi semangat n kemauan.
But anyway..busway… Thanks God.. Alhamdulillaah… Allah masih sayang pada kami, hasil CT Scan Taj pada bagian otak normal n tidak ada kelainan, hanya terlihat sinus karena cairan yang kemudian disarankan untuk ditangani di dokter THT.
Nah.. saat-saat itulah rasanya plooong… n legaaaa sekali. Sepertinya batu yang menghimpit langsung terangkat n terguling dengan sendirinya. Kami masih diberi kesempatan keriangan untuk menatap ke depan. Meski masih ada secuil kesulitan namun itu tidaklah berarti banyak dibandingkan kehidupan n kesehatan anak, mahkota kami. Masih banyak yang harus dilewati dengan semangat yang tumbuhnya secuil-secuil ini. Namun sekecil apapun itu, memang wajib disyukuri. Alhamdulillaah…

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta