Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for February, 2009

86.400 Detik Yang Berharga

Memang hidup ini tak ubahnya seperti pertandingan saja. Tak boleh menyia-yiakan waktu yang diberikan kepada kita. Sang Pencipta Penguasa Jagad Raya memberikan sesuatu yang berbeda soal harta, kedudukan/tahta, wajah yang ganteng/cantik, pintar/bodo, dan bahkan cacat atau normal. Tak peduli apakah itu pengusaha/kuli, kyai/santri, guru, petani, mahasiswa, pengangguran semua diberikan modal 24 jam per hari atau 86.400 detik.

Ya…., itu adalah modal. Jikalau kita sia-siakan modal itu siap-siaplah untuk bangkrut. Berapa banyak yang sudah kita buang percuma….?? Ngrumpi alias ghibah, nonton acara TV yang tak berkualitas, BBS alias bobo’-bobo’ siang (he..he..), berdebat tanpa tujuan yang jelas, jalan-jalan percuma dan masih banyak lagi. Mungkin kita jarang bahkan gak pernah menghitungnya. Mungkin sudah jutaan dan bahhkan milyaran detik telah kita habiskan. Bila kita mampu menghasilkan sesuatu senilai 86.400 detik sehari berarti impas…ga untung, ga rugi. Bila kurang dari itu berarti kita rugi. Kalau rugi terus….waaaah……bisa bangkrut dech…..!!?

Agar modal 86.400 detik itu terus berkembang dan gak rugi, investasikan setiap detik kita untuk sesuatu yang bermanfaat. Teruslah berkarya. Putarlah roda kehidupan ini untuk sesuatu yang bermanfaat. Tebarlah energi positif (EPOS) di sekitar kita. Jadilah gardu epos dunia. Mulai dari hanya sekedar senyum, wajah yang sumringah, berbagi ilmu hingga meringankan beban orang lain. Teruslah berinvestasi dengan waktu yang diberikan sang Kholik kepada kita, agar modal kita terus berkembang dan semakin produktif. Jangan sampai kita rugi, apalagi bangkrut.

Ayo…., mari kita tutup kerugian-kerugian kita di masa lalu. Jadikan setiap detik yang diberikan membawa manfaat buat kita, keluarga kita, saudara-saudara kita, kawan-kawan kita hingga masyarakat dan bangsa kita. Ayo……, berlarilah sekencang-kencangnya bersama detik-detik yang kita punya. Jangan mau rugi. Apalagi bangkrut. Modal kita semua sama…..ya…, 86.400 detik.

Dari seorang sahabat, Sarwi, ref. “Menyemai Impian, Meraih Sukses Yang Mulia” (Jamil Azzaini)

tdaAlhamdulillaah… setelah menunggu selama 3 bulan, akhirnya kemarin disetujuilah saya menjadi bagian dari jaringan TDA (Tangan Di Atas). Yach… meskipun saat ini saya masih amphibi, hidup di dua alam, belajar sebagai TDA dan status sebagai TDB (tangan di bawah) alias karyawan yang tinggal tunggu hari gajian. Sepertinya belum pantas deh kalo dibilang sudah menapakkan kaki sebagai TDA, karena lebih dari separo hati saya toh masih nyaman sebagai karyawan, he..he.. Namun kesempatan menjadi bagian dari komunitas TDA, Insya Allah tidak akan saya sia-siakan. Semoga juga bisa memacu n mempercepat saya untuk segera Take Double Action. Kalaupun bukan saya dulu, ya suami dululah… Ya, soalnya meskipun dia sudah kerja sendiri namun sepertinya belum 100% TDA deh. Thanks to Provokator TDA, Bapak Roni Yuzirman, yang meskipun belum kenal saya, namun saya telah merasa kenal beliau via tulisan-tulisan beliau di blog yang begitu memotivasi n low profile. Juga tokoh TDA, Bapak Hadi Kuntoro yang menggelegar dan sering pas postingannya dengan kondisi saya. Semoga juga nuansa n lingkungan baru ini menambah berkah n siapa tau saya juga bisa berbuat sesuatu di dalamnya, sekaligus mempercepat langkah menjadi seorang TDA. Amiin..

Antara Kematian dan Cita-Cita

Meninggalnya Kakak benar-benar mengubah hidup saya. Saya sering memikirkan kematian n persiapan yang belum saya lakukan. Seakan lupa akan semua cita-cita n keinginan. Saya memang orang yang suka bermimpi, namun saat ini saya benar-benar merasa nafsu besar tenaga kurang (he..he..). Ditambah dengan perasaan bahwa saya sekarang bukanlah saya yang dulu, saya yang terbatas dengan mimpi tanpa tenaga untuk mewujudkannya.
Berkunjung ke blog sahabat saya jaman kuliah dulu, membaca uraiannya dalam “Hidup ini untuk Kematian dan Kematian itu untuk Hidup Sebenarnya”, menyiratkan sebuah keihlasan, hal yang sampai saat ini masih sulit saya lakukan (thanks Mas Yusuf…). Tentang kematian itu sendiri… di sisi hati yang lain memohon agar diberi kesempatan merawat Taj hingga dewasa kelak, namun saat ini saya ada kesempatan untuk bisa mati syahid loh….(he..he.., maklum nih 2 bulan lagi melahirkan). Eit.. tapi, astaghfirullaahal adziim.. Kalo ingat dipercaya untuk dititipi lagi sama Yang Di Atas, bangkit lagi nih cita-cita n keinginan saya.
Tak perlu saya urai deh apa cita-cita itu. Mungkin bagi sebagian orang, saya termasuk ambisius yach… Namun bagi lebih banyak orang lagi, seperti teman-teman sesama blogger di dunia maya yang banyak menginspirasi saya, mimpi itu wajib n mumpung mimpi itu gratis tis tis…. maka tempelkanlah kertas mimpimu di setiap sudut rumahmu, he..he.. (jadi ngaco ni..). Saya sadar diri kok dengan segala keterbatasan saya saat ini sebagai perempuan pekerja. Namun suer…. sudah kangen rasanya melakukan suatu perubahan besar dalam hidup.
Intinya saya berpendapat memang kematian itu dekat dengan kita, namun salahkah bila saya kemudian bangkit kembali untuk meneruskan cita-cita saya, bekerja cerdas n bisa berbagi ke banyak saudara n teman n berarti buat mereka. Kayaknya perlu bikin resolusi n target ya buat nentuin waktu jadi “work at home mom”?

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta