Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for December, 2009

Dari Seorang Ibu Untuk Ibunya

Ibu
Kau yang mengajari dan mengenalkanku pada dunia
kau mengajariku bagaimana tumbuh besar
kau mengajariku bagaimana menjadi seorang wanita
dan kau juga mengajariku bagaimana menjadi IBU

Ibu
Tahukah kau? Ketika aku menggendong cucumu–anakku
Terbayang 24 tahun yang lalu kau juga menggendongku
Ketika anakku membasahi bajuku dengan ompolnya
Kutau dulu diriku juga melakukan hal yang persis sama dengannya

Ibu
Ketika aku menatap wajah cucumu-anakku
Ada rasa gelisah membayangiku
Dapatkah aku membahagiakannya?
Dapatkah aku memenuhi kebutuhannya?
Apakah dia bisa tumbuh sehat ?

Ibu
Tubuhku lelah, dia terus meminta untuk disusui dan digendong
Tengah malam pun kuharus bangun untuk mengganti popoknya
Terkadang ada rasa marah dan kesal ketika dia menjatuhkan mangkuk buburnya
Bajunya kotor, bubur special buatanku terbuang percuma

Padahal dia masih bayi, aku baru mengurusnya 7 bulan semenjak dia lahir
Bagaimana denganmu yang mengurusku selama 24 tahun?

Terbayang olehku bagaimana rasa sabarmu ketika aku membuatmu sedih
Ketika aku dulu membuatmu lelah dengan segala kenakalan,
Ketika terucap banyak kata- kata yang menyakitkan hatimu
Kini kusadar

Bagaimana rasa khawatirmu
Bagaimana rasa sedihmu
Bagaimana berada diposisimu
Sebagai ibu

Mungkin aku telah menginjak-injak hatimu
Menghancurkan perasaanmu
Merobek-robek kepercayaanmu
Dengan segala khilafku

Ibu
perjuanganku sebagai orangtua baru saja dimulai
Tapi perjuanganmu belum berakhir
Selamat hari Ibu
Walau aku juga seorang ibu
Namun aku merasa belum layak untuk diberi ucapan tersebut

Ibu
Terima kasih atas segala jerih payahmu
Yakinlah bahwa pengorbananmu tak pernah percuma
Jasamu tiada berbayar dan berbalas
Love u always, mom
dari seorang ibu untuk ibunya

Sumber: (Thanks to) Dila, survive_tough_girl@yahoo.co.id

Hari Ibu Tahun Ini

Time goes fast. Ga kerasa sudah hari Ibu lagi. Pagi-pagi Taj dah ngucapin met hari ibu n bilang mau ada kejutan hadiah buat ibu nanti. He..he.. kejutan kok bilang-bilang. Rasanya ga mau nginget-inget hari Ibu sama halnya dengan ultah, karena mengingatkan lagi akan perhatian n romantisnya Kakak.
Yasud deh, biar ga larut suasana sentimentilnya, saya posting aja lirik lagu Bunda-nya Melly Guslow, Taj suka lagu ini (juga Kakak dulu..hiks..). Teriring doa buat ibu2 saya n teriring ucapan Selamat Hari Ibu buat semua perempuan Indonesia (hari Ibu jangan identik dengan arti ibu yang melahirkan anak looh… inget awalnya kan Kongres Perempuan). Maju terus, tetap berkarya n berarti bagi keluarga n masyarakat duhai perempuan Indonesia. Semoga selalu diberi kesehatan, kekuatan, n of course kebahagiaan…..

———————————————————————————————————————————-

Bunda
oleh: Melly Goeslaw

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

*
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to *

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Note: Mbak Lolo atau Bunda Elona… saya mengenalnya via milis, lebih tepatnya hanya kenal tulisan beliau yang semangat berbagi ilmu n pengalaman tentang per-ASI-an n kesehatan. Minggu lalu, putri sulung Mbak Lolo dipanggil kembali ke Sang Empunya, secara tak dinyana. Baca beritanya di sini. Baca juga tentang ketegaran Mbak Elona saat  kepergian buah hatinya.

Assalaamu alaikum Wr. Wb.

Meski secara pribadi kita belum pernah bertemu tapi saya kenal nama Mbak via tulisan2 di milis. Saya turut berduka sedalam-dalamnya ya Mbak atas dipanggilnya putri pertama Mbak. Saya merasa terpanggil untuk menulis email secara pribadi ke Mbak karena saya pernah mengalami apa yang Mbak alami, kehilangan anak pertama dalam usia yang sama (8,5 tahun ya Mbak?).

Saya terisak-isak membaca email yang ditulis Mbak di milis, sungguh saya kagum. Sampai saat ini pun (1,5 tahun anak saya meninggal), saya tak mampu menuliskan runtut seperti Mbak tulis.
Saat hari pemakamannya kita bisa begitu kuat Mbak… tapi hari yang selanjutnya adalah lebih berat. Mengenang kebiasan-kebiasaannya n kebersamaannya pada saat-saat tertentu. Banyak orang menghibur, tapi kita akan merasa n berkata “Ya iyalah… kamu nggak merasakan apa yang kurasa”. Banyak yang bilang kita telah punya istana di sorga or anak yang menunggu kita di surga, tapi kita akan bilang “Kalo boleh memilih tak dapat istana di surga pun tak apa, asal anak kita tetap bersama kita”.

Saya tahu sekali.. hari-hari ke depan akan begitu berat Mbak. Tapi jalani saja. Jangan sekali-sekali berusaha melupakan, akan sangat menyakitkan. Ingat saja kenangan bersamanya begitu kenangan itu datang melintas. Jangan kita paksa untuk menghilangkan or merenggutnya tiba-tiba.

“Selalu ada “hari pertama” Mbak yang harus kita hadapi untuk apapun di dunia ini. Buat Mbak adalah hadapi “hari pertama” tanpa ananda Khonsaa. Begitu “hari pertama” yang sungguh sangat sulit n menyakitkan itu lewat, Insya Allah kita akan lebih kuat menghadapi kehidupan berikutnya.”

Maafkan saya bila ada kata saya yang membuat Mbak bersedih. Hanya sedikit penyemangat ini saya layangkan. Saya juga tak kuasa merangkai kata lagi karena dada saya pun sesak menahan isak.

Semoga Mbak n keluarga bisa menghadapinya ya. Diberi kekuatan, ketabahan, n keihklasan selalu.

Wassalam,
Teriring Al Fatikhah dari kami buat Mbak sekeluarga n Khonsaa di surga,
Amy Amalia
http://akupastibisa.com

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta