Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for June, 2010

Halo, kami tiga buah botol. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari diri kami. Kami hanya botol minuman kemasan vitamin C yang banyak dijual di retail-retail. Ketika isinya habis, sebentar saja kami sudah masuk ke dalam bak sampah dan diangkut ke TPA terdekat. Tapi tunggu… di sinilah perjalanan cinta kami dimulai! Seorang bapak pemulung tua memungut kami dengan binar cinta dan harapan. Setidaknya ada rupiah yg bisa dibawanya pulang. Sampai ke pengepul, kami digosok, distelisisasi, hingga.. cling! Tak ada yang menyangka kami pernah teronggok di tempat sampah. Kerennya… recycle nih.

Meski kami sering tak suka dengan sesuatu yang berbau eksploitasi, kali ini kami senang diperdagangkan. Mengapa? Karena pedagangnya mengambil kami dengan halal, malah mengurangi volume sampah ibukota. Terlebih lagi… pemulung dan pengepulnya mencari usaha yang halal meski tak sedikit orang yang mencibir. Tak ada yang perlu merampok kami untuk mencari uang. Kami pun menjadi apa adanya diri kami. Dengan kami, mereka menyuapkan sesendok nasi untuk anak dan istrinya. Di dalamnya tersimpan berkah, doa, dan cinta.

Dan… nah! Kami pun sampai di tengah keluarga kecil sederhana. Seorang ayah yang suka makan, ibu yang cuek, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil nan cantik berusia 1 bulan. Di sinilah perjalanan cinta kami BENAR-BENAR dimulai!

Satu bulan sebelum mulai meninggalkan cuti melahirkannya, ibu si Baby sudah mulai mensterilkan kami lagi dan lagi. Di tengah waktunya mengurus seorang ayah yang suka makan, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil nan cantik, ia mengisi kami satu persatu. Setelah mencuci popok-popok dan pakaian, setelah menyetrika, setelah memasak, setelah mengedit naskah, setelah melayout, setelah mendesain, setelah menulis ide-idenya, sambil menahan kantuk, ia memaksakan diri untuk mengisi kami. Mengisi kami dengan cairan cinta….

Sesungguhnya bagi perempuan itu, tidak ada yang mewajibkannya bekerja. Sama halnya dengan tidak wajibnya ia untuk berada di rumah saja. Ah, dia lebih suka memakai kata berkarya daripada bekerja. Baginya semua hanyalah pilihan. Ketika situasi dan kondisi memberikannya jalan untuk berkarya, ia menjalaninya dengan senang hati. Menjadi ibu bekerja bukan berarti tidak mencintai dan mengabaikan anak-anak. Banyak juga ibu yang selalu di rumah nyatanya yang stres karena anak-anaknya. Tidak selalu satu ditambah satu sama dengan dua, prinsipnya. Ia hanya berusaha untuk sedikit cerdas menyiasati dan berdamai dengan kondisi yang serba terbatas. Karena ia tahu, betapa banyak ibu bekerja yang dalam hatinya menjerit karena naluri keibuannya menuntutnya untuk selalu mendampingi anak-anaknya. Ia pun salah satu di antaranya. Tetapi ia memilih untuk tersenyum, bukan menjerit. Pun ketika ia memilih untuk hanya memberi ASI kepada anaknya, bukan susu formula, ia berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan yang terbaik sambil tetap tersenyum.

Dua bulan berlalu. Akhirnya ia mulai harus benar-benar meninggalkan kebahagiaan sejatinya. Ia harus mulai bekerja lagi. Si ibu mulai jarang kelihatan di rumah. Setiap pagi, ia membawa tiga di antara kami yang kosong, bersama dua tangkup es biru. Ia sering dibilang keras kepala dan memaksakan diri, tapi ia tak pernah keberatan. Apalah artinya tuduhan bila dibayar dengan kepuasan rasa telah berusaha memberikan yang terbaik untuk bayi kecilnya. Bagi sebagian ibu, dapat memberikan anaknya asi eksklusif adalah sebuah kewajaran, tetapi baginya –yang selalu bekerja sejak pagi hingga sore– itu adalah sebuah pencapaian yang membahagiakan.

Setelah menciumi bayinya tak ada henti pagi itu, tak lupa membalurinya dengan doa, si ibu melangkahkah kaki panjang-panjang. Ia melompat ke dalam angkot, menyusup ke dalam ular besi yang selalu penuh sesak, menuju tempatnya berkarya. Baginya semua adalah karena cinta. Itulah bedanya bekerja dengan berkarya. Ketukan keyboard dan goresan kursor yang tercipta karena cinta memiliki tenaga yang akan membuatnya diterima oleh hati siapa pun. Tidak selalu indah, tetapi kekuatannya dapat dirasa. Itulah juga yang kami rasakan. Kami botol-botol cinta, begitu sebutan darinya. Bahagia bukan kepalang. Kami hanya botol-botol seribu rupiah. Tapi kami terisi cairan tak ternilai rupiah. Makanan terbaik bagi bayi yang baru mengenal dunia.

Satu demi satu kami terisi penuh. Ketika matahari mulai lelah, hendak menuju kasur empuknya, si Ibu dengan riang memasukkan tubuh kami ke dalam ranselnya yang selalu kembung. Kami ikut terguncang ketika ia berlarian mengejar ular besi yang tampaknya terlalu dirindu. Meski tak sekali ia terjatuh mengejar ular yang sering mengecewakan itu, tak ada jera sang ibu terus berharap. Tampak buncahan rasa rindu karena memikirkan bayinya yang lucu. Sejenak ia tersenyum membayangkan hidungnya digigiti gigi muda yang baru berputik, rambutnya ditarik jemari kecil nan gendut-gendut, roknya digelantungi tubuh kecil yang mulai belajar berjalan.

Kami, tiga botol cinta, semakin didekapnya erat ketika ular besi yang digelantungi manusia bak semut mulai muncul. Tubuh mungilnya melompat ke dalam dan terombang-ambing sejenak. Di dalam ular besi yang membuat orang kurus itu pun ia tetap tersenyum, memikirkan obat anti-depresannya. Obat anti depresan yang mulai pintar merengek dikala melepas kepergiaannya setiap pagi. Dan… terbanglah kami bersamanya. Kami, tiga botol cinta….

Sumber/Ditulis oleh: Aminah Mustari, seorang ibu bekerja yang juga memberikan ASI eksklusif untuk bayinya.

Tips Sederhana Hidup Bahagia

Lima tips sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more).
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less).

Sumber: seorang kawan SMA – Danoe

Perempuan bekerja sering kali dituduh mengalami “conflict of interest” karena sering izin dari kantor untuk menemani anak. Hampir tidak ada pria yang dianggap mengalami kondisi ini, padahal itu terjadi karena pria tidak dibebani tanggung jawab untuk mengasuh anak. Perempuanlah yang harus menanggung beban tersebut, dan mereka masih harus menerima tuduhan tersebut.

Padahal, kalau saja perusahaan mengerti, perempuan berkeluarga justru merupakan karyawan yang paling dapat diandalkan. Adanya peran ganda tersebut saja sudah membuktikan bahwa perempuan mampu mengerjakan lebih banyak pekerjaan. Linda Waters, career coach yang juga pendiri BacktoBusiness.org, memberikan lima alasan lain mengapa perempuan bekerja bisa jadi karyawan paling hebat:

1. Profesionalisme
Anda tidak akan membuyarkan konsentrasi klien dari urusan kerja dengan menunjukkan telepon dari pacar yang ingin ketemu, tato, rok mini, beachy hair ala Miley Cyrus yang bikin klien gemas ingin mengikatnya, atau berbicara dengan terbata-bata.

2. Pintar mengatur jadwal
Jika ada orang yang paling cermat mengatur jadwal, itulah para ibu baru. Bagaimana mengatur antara pekerjaan administratif, berolahraga, dinas keluar kota, menelepon si mbak di rumah untuk menanyakan kabar anak, sampai membuat janji dengan dokter anak, Anda bisa melakukannya tanpa meleset. Perempuan yang sudah memiliki anak sangat mahir menangani hal ini, bahkan tahu bagaimana menghadapi kekacauan dengan tenang.

3. Kemampuan mengelola
Tak satu pun kegiatan di atas yang tidak dilakukan dengan lebih dulu mengelola apa yang harus dibawa dan dilakukan. Membawa pemompa ASI, membawa snack agar tidak kelaparan di jalan, membawa berkas-berkas dari kantor, hingga membawa sepatu dan pakaian untuk berolahraga. Jika satu saja elemen di atas meleset, seluruh jadwal bisa berantakan. Terlambat pulang, bisa-bisa si kecil menangis sepanjang malam, dan hal ini lebih menakutkan daripada ditegur atasan!

4. Loyal dan pintar bernegosiasi
Jika perusahaan ingin mengetahui karyawan mana yang loyal dan mampu memberikan yang lebih, itulah para ibu. Perempuan berkeluarga tahu bagaimana menghargai pekerjaan dan fleksibilitasnya. Sebagai karyawan, Anda juga pintar bernegosiasi. Misalnya, jika Anda boleh pulang lebih sore hari ini, Anda akan datang lebih pagi besok. Atau, jika Anda boleh izin sebentar untuk menjemput anak di sekolah, Anda akan sekaligus mampir menemui buyer.

5. Manajemen SDM
Sebagai ibu, Anda harus memberikan briefing untuk pengasuh anak, bersosialisasi dengan sesama orangtua murid pada pertemuan bulanan, membantu menyiapkan arisan keluarga suami, menyiapkan laporan yang akan dipresentasikan atasan Anda di acara regional meeting, dan tentunya menyusun kegiatan Anda sendiri di kantor. Anda harus berurusan dengan banyak orang dengan kepribadian dan jadwal yang bervariasi. Jika tidak terbiasa menghadapi manusia dengan berbagai persoalannya (dan persoalan Anda sendiri), Anda pasti langsung menyerah.

Sumber: Kompas.com, Penulis-Editor: Din, dari “BackToBusiness”

 
Ngantor Sambil Bisnis!

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta