Posted on 2011 under Kakak, Renungan |
15
Sep
Di saat terhimpit, ingatlah kala Allah menguji kita dengan hal yang lebih berat
Saat itu kita pun pasti berat merasakannya
Namun setelah semua (terpaksa) harus dilalui,
maka perlahan belajarlah membuka diri untuk ikhlas
Saat menemui ujian yang berat
Saat galau dan tertekan
Rasakan bahwa kita pernah mengalami yang lebih berat
Jadi.. mantapkan hati dan tatap ke depan untuk sebuah “ujian kenaikan kelas”
Mengenang Kakak n menata hidup di kota panas
Posted on 2011 under Kakak |
3
Apr
Tiga tahun tanpamu
Masih selalu berusaha menepiskan detik-detik itu
Sengaja bersibuk-sibuk diri n tak menengok kalender
Tapi kenapa memori seperti diputar ulang secara otomatis
Tiga tahun tanpamu
Semangat perlahan bangkit
Untuk membuat lebih berarti bagi keluarga n orang lain
Mungkin itu yang bisa membangkitkan keihklasan
Ya Allah…
Tambahlah ikhlas di hati
Agar tak harus menghapus memori
Namun mengenangnya penuh keindahan
Amin…..
Posted on 2010 under Kakak |
29
Dec
Hari ini, 29 Desember 2010, genap 1000 hari kehidupan kami tanpa Kakak. Memandang buku Yasin bersampul ungu, tak ada keinginan untuk membuka halaman depannya. Hihi..meski akhirnya kuat juga, demi ambil gambarnya.
Seribu hari tanpamu Kak
Sudah ada Kania di sini, benarkah dia “sang penyembuh” hati kami?
Taj semakin tumbuh besar, kecentilannya sesekali mengingatkan kami padamu
Dia juga sudah mulai minta dibuatkan email dan blog sepertimu
Seribu hari tanpamu
Masih ada yang menoreh hati bila mengingatmu n kangen menerjang
Masih ada keinginan Kakak hadir kembali
Moga-moga ini bukan karena ketidakikhlasan kami
Namun hanya refleksi bersit kerinduan semata
Seribu hari tanpamu
Ibu benciiii banget kalau harus menulis seperti ini
Namun tak mengapa
Life must go on
Yang harus mulai Ibu ganti n perbaharui adalah semangat
Semoga lewat seribu harimu, semangat baru kian membuncah
Semoga semangat ini yang menemani dalam setiap langkah kami
Semoga Kakak bahagia di surga
Aamiin.
Posted on 2010 under Kakak |
24
Sep
Bukan hendak menggugat takdir kepergianmu
Bukan pula bermaksud tidak ikhlas pada suratan-Nya
Tapi hati masih menolak pergimu (sama seperti waktu Kakak meninggalkanku dulu)
Kepergianmu adalah renungan dan pelajaranku
Kenapa pergimu pada saat cita-cita berhaji sudah menunggu keberangkatan
Kenapa ide “surprise” ulang tahunmu di tahun ini, justru menjadi ultah terakhirmu
Kini…tak ada lagi nasihat n arahan
Tak ada lagi tempat curhat bila diriku tertekan atau bahkan dipinang di pekerjaan
Cara pandangmu terhadap perempuan berkarya n kesetaraan gender
Dengan tetap berpegang pada nilai agama
Idealisme bahwa bekerja adalah menyenangkan n membawa manfaat buat banyak orang
Insya Allah kuingat n laksanakan selalu
Meski sering aku berbeda pendapat denganmu
Saat memilih sekolah, saat memilih suami, menentukan pekerjaan
Namun aku selalu bisa menentukan pilihanku sendiri, dengan petunjuk n doamu
Juga yang selalu kau ingatkan pada kami, “minta doa ibumu”
Tegarnya dirimu telah banyak teruji sepanjang hidup
Saat sakitnya Kakak, SMS-SMS penghibur senantiasa terkirim untukku
“Allah tak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya”
“Harus ada ujian untuk bisa naik kelas”
“Hasbunallah wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikman nashiir..”
Demikian yang sering terkirim
Saat melepas perginya Kakak pun, hanya ada bening air mata di ujung mata yang sengaja kau sembunyikan dariku (lepas itu 2 cucumu telah berpulang dahulu)
Cara mendidik n berkasih sayang kepada anak-anakmu berbeda dengan cara kami, anak-anakmu
Yup.. cara sekarang yang penuh dengan banyak metode n teori
Komentarmu waktu itu, tak harus berkata cinta untuk mengatakan cinta, tak harus mencium untuk membuktikan sayang
Kuakui.. itulah yang menjadikan kami bisa tumbuh lebih mandiri
Ketenangan n senyummu di detik-detik terakhir
Adalah pembuktian bahwa hidup benar-benar harus berniat ibadah kepada Yang Maha
Menebar manfaat buat banyak orang
Menjalin silaturahim n ukhuwah
Rangkaian kalimat ini kutulis dengan paksa, di antara deraian air mata
Tak sanggup lagi kuungkapkan, meski banyak yang kukenang
Selamat jalan Bapak…
Insya Allah surga untukmu
Semoga anak-anakmu bisa meneruskan jiwa n semangatmu
Mengenang Bapak di 40 hari perginya – wafat 16 Agustus 2010 dalam usia 70 tahun
Masih lanjutan posting sebelumnya, sekedar sharing. Siapa tau berguna buat ortu yang anaknya kena tumor otak seperti kami.
Saturday, April 10, 2010, 8:58 AM
dear mba
kl boleh tau,yg kena tumor sp mba?kondisinya skrng gmna? fajrul ditangani dr.rudi..sementara ini msh tahap pemasangan selang dr kepala ke tubuh untuk menyalurkan cairannya yg tertahan oleh tumor tsb. sharing ya mba.
Ini jawaban saya:
waduh kaya mbuka luka lama kami, mbak. anak pertama saya “sudah dipanggil lagi olehNya”, 2 tahun yang lalu dalam usia 8,5 thn. dia sempet ngeblog di http://afiyazahra.wordpress.com (terakhir ada tulisan bapaknya malah). dia kena tumor tipe medulloblastoma.
kesalahan fatal kami adalah kami (saya dan suami) seperti orang bengong ngga tau berbuat apa. merasa bahwa apa yang kami lakukan sudah memadai. ternyata sangat jauh dari cukup.
Saran saya utk mbak dan Fajrul:
1. ngga ada cara lain selain diangkat tumornya. soal ini sebaiknya diserahkan ke dr Eka Julianto (katanya the best SpBS indonesia). baru sesudah itu diserahkan ke onkologyst utk pengawasan dan mungkin kemo.
2. harus bersiap dgn kondisi Fajrul yang baru sesudah operasi. karena biasanya pasti ada yang “hilang”. pilihannya adalah “hilang” sebagian atau kita “kehilangan” keseluruhan.
3. vp shunt cuma utk mengatasi hidrosepalus, ngga mengobati tumornya. tergantung lokasi tumornya, rasanya masih ada waktu bbrp hari/minggu utk diangkat tumornya, dengan segala resikonya, mbak. melihatnya membaik setelah dipasang vp shunt membuat kita seolah merasa masalah teratasi. justru inilah saat yang tepat untuk mengangkat tumornya. karena sesudah itu Fajrul akan semakin menurun kondisinya.
4. di singapura ada alat bernama gamma knife yang digunakan utk memotong saluran supply zat makanan utk tumor. ada yang sukses melalui alat ini. tapi ada juga yang tidak berhasil. rasanya mendengarkan saran dr Eka adalah yang paling baik soal gamma knife ini.
5. mbak dan suami ngga boleh jadi orang bengong (jangan kayak kami dulu). teruslah berusaha utk memberikan yang terbaik utk Fajrul. ketika semua usaha kita gagal, setidaknya tidak akan dihantui perasaan bersalah sudah memberikan yang terbaik utk Fajrul (ngga kayak kami sekarang).
6. yang non-medis boleh dicoba juga mbak. cari ahli psikokinetik utk dicoba mengangkat tumornya melalui metode ghaib. tapi jangan terlalu membabi buta hingga kehilangan akal sehat. tetap medis yang terbaik. katanya anak yang spesial hanya diberikan kepada orang tua yang spesial.
7. kami terlambat menyadari bahwa mengangkat adalah satu-satunya jalan. akibatnya fatal mbak. Tidak ada seorangpun yang mengatakan pada kita waktu itu bahwa tumor itu harus diangkat apapun risikonya.
Semoga sharing saya tidak mengecilkan hati Mbak, justru menyemangati agar tetap on the track, soalnya kalau kita sendiri yang mengalami hal sulit ini, sering kehilangan pikiran sehat. Berdoa selalu untuk kebaikan semuanya n mohon dikuatkan. Tunjukkan kasih sayang n perhatian yang besar ke Fajrul.
Salam,
Amy