Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for Motivasi category

Membuat Semua Orang Senang?

Kita tidak bisa membuat semua orang senang dalam waktu bersamaan. Apapun pilihan kita, pasti ada yang senang ada yang sebal, ada yang suka, ada yang tidak suka… ada yang menerima, ada yang menolak. Kita pun harus tetap menjaga ‘hati’. Tidak semua kritikan, cemooh, bisa kita terima. Tapi jika kita memiliki alasan yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan.. kita bisa menjaga ‘hati’ kita dari input-input negatif tersebut..

Tentunya, kita juga lebih fokus pada input-input positif yang kita terima.. tanpa melupakan yang negatif. Input negatif atau kritikan juga bisa membuat diri kita menjadi lebih baik.

Tapi tetap..
1. Kita tidak bisa membuat semua orang senang
2. Kita tidak perlu berusaha membuat semua orang senang
3. Penolakan tidak akan menghancurkan hidup kita

(Sumber) Thanks to Dini Shanti

Halo, kami tiga buah botol. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari diri kami. Kami hanya botol minuman kemasan vitamin C yang banyak dijual di retail-retail. Ketika isinya habis, sebentar saja kami sudah masuk ke dalam bak sampah dan diangkut ke TPA terdekat. Tapi tunggu… di sinilah perjalanan cinta kami dimulai! Seorang bapak pemulung tua memungut kami dengan binar cinta dan harapan. Setidaknya ada rupiah yg bisa dibawanya pulang. Sampai ke pengepul, kami digosok, distelisisasi, hingga.. cling! Tak ada yang menyangka kami pernah teronggok di tempat sampah. Kerennya… recycle nih.

Meski kami sering tak suka dengan sesuatu yang berbau eksploitasi, kali ini kami senang diperdagangkan. Mengapa? Karena pedagangnya mengambil kami dengan halal, malah mengurangi volume sampah ibukota. Terlebih lagi… pemulung dan pengepulnya mencari usaha yang halal meski tak sedikit orang yang mencibir. Tak ada yang perlu merampok kami untuk mencari uang. Kami pun menjadi apa adanya diri kami. Dengan kami, mereka menyuapkan sesendok nasi untuk anak dan istrinya. Di dalamnya tersimpan berkah, doa, dan cinta.

Dan… nah! Kami pun sampai di tengah keluarga kecil sederhana. Seorang ayah yang suka makan, ibu yang cuek, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil nan cantik berusia 1 bulan. Di sinilah perjalanan cinta kami BENAR-BENAR dimulai!

Satu bulan sebelum mulai meninggalkan cuti melahirkannya, ibu si Baby sudah mulai mensterilkan kami lagi dan lagi. Di tengah waktunya mengurus seorang ayah yang suka makan, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil nan cantik, ia mengisi kami satu persatu. Setelah mencuci popok-popok dan pakaian, setelah menyetrika, setelah memasak, setelah mengedit naskah, setelah melayout, setelah mendesain, setelah menulis ide-idenya, sambil menahan kantuk, ia memaksakan diri untuk mengisi kami. Mengisi kami dengan cairan cinta….

Sesungguhnya bagi perempuan itu, tidak ada yang mewajibkannya bekerja. Sama halnya dengan tidak wajibnya ia untuk berada di rumah saja. Ah, dia lebih suka memakai kata berkarya daripada bekerja. Baginya semua hanyalah pilihan. Ketika situasi dan kondisi memberikannya jalan untuk berkarya, ia menjalaninya dengan senang hati. Menjadi ibu bekerja bukan berarti tidak mencintai dan mengabaikan anak-anak. Banyak juga ibu yang selalu di rumah nyatanya yang stres karena anak-anaknya. Tidak selalu satu ditambah satu sama dengan dua, prinsipnya. Ia hanya berusaha untuk sedikit cerdas menyiasati dan berdamai dengan kondisi yang serba terbatas. Karena ia tahu, betapa banyak ibu bekerja yang dalam hatinya menjerit karena naluri keibuannya menuntutnya untuk selalu mendampingi anak-anaknya. Ia pun salah satu di antaranya. Tetapi ia memilih untuk tersenyum, bukan menjerit. Pun ketika ia memilih untuk hanya memberi ASI kepada anaknya, bukan susu formula, ia berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan yang terbaik sambil tetap tersenyum.

Dua bulan berlalu. Akhirnya ia mulai harus benar-benar meninggalkan kebahagiaan sejatinya. Ia harus mulai bekerja lagi. Si ibu mulai jarang kelihatan di rumah. Setiap pagi, ia membawa tiga di antara kami yang kosong, bersama dua tangkup es biru. Ia sering dibilang keras kepala dan memaksakan diri, tapi ia tak pernah keberatan. Apalah artinya tuduhan bila dibayar dengan kepuasan rasa telah berusaha memberikan yang terbaik untuk bayi kecilnya. Bagi sebagian ibu, dapat memberikan anaknya asi eksklusif adalah sebuah kewajaran, tetapi baginya –yang selalu bekerja sejak pagi hingga sore– itu adalah sebuah pencapaian yang membahagiakan.

Setelah menciumi bayinya tak ada henti pagi itu, tak lupa membalurinya dengan doa, si ibu melangkahkah kaki panjang-panjang. Ia melompat ke dalam angkot, menyusup ke dalam ular besi yang selalu penuh sesak, menuju tempatnya berkarya. Baginya semua adalah karena cinta. Itulah bedanya bekerja dengan berkarya. Ketukan keyboard dan goresan kursor yang tercipta karena cinta memiliki tenaga yang akan membuatnya diterima oleh hati siapa pun. Tidak selalu indah, tetapi kekuatannya dapat dirasa. Itulah juga yang kami rasakan. Kami botol-botol cinta, begitu sebutan darinya. Bahagia bukan kepalang. Kami hanya botol-botol seribu rupiah. Tapi kami terisi cairan tak ternilai rupiah. Makanan terbaik bagi bayi yang baru mengenal dunia.

Satu demi satu kami terisi penuh. Ketika matahari mulai lelah, hendak menuju kasur empuknya, si Ibu dengan riang memasukkan tubuh kami ke dalam ranselnya yang selalu kembung. Kami ikut terguncang ketika ia berlarian mengejar ular besi yang tampaknya terlalu dirindu. Meski tak sekali ia terjatuh mengejar ular yang sering mengecewakan itu, tak ada jera sang ibu terus berharap. Tampak buncahan rasa rindu karena memikirkan bayinya yang lucu. Sejenak ia tersenyum membayangkan hidungnya digigiti gigi muda yang baru berputik, rambutnya ditarik jemari kecil nan gendut-gendut, roknya digelantungi tubuh kecil yang mulai belajar berjalan.

Kami, tiga botol cinta, semakin didekapnya erat ketika ular besi yang digelantungi manusia bak semut mulai muncul. Tubuh mungilnya melompat ke dalam dan terombang-ambing sejenak. Di dalam ular besi yang membuat orang kurus itu pun ia tetap tersenyum, memikirkan obat anti-depresannya. Obat anti depresan yang mulai pintar merengek dikala melepas kepergiaannya setiap pagi. Dan… terbanglah kami bersamanya. Kami, tiga botol cinta….

Sumber/Ditulis oleh: Aminah Mustari, seorang ibu bekerja yang juga memberikan ASI eksklusif untuk bayinya.

Tips Sederhana Hidup Bahagia

Lima tips sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more).
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less).

Sumber: seorang kawan SMA – Danoe

Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut.
Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.
Jessica Padykula menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif yang adalah sebagai berikut:

1. Hidup di saat ini
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.

2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.

3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.

4. Jangan berdiam diri
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.

5. Fokus pada hal-hal positif
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti ‘hari ini cerah’ atau ‘makan sore hari ini menakjubkan’ . Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.
6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.

7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.

8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran ‘ya, tapi.’. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.

9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.

sumber: noretz-area.blogspot.com

Banyak di antara kita pasti bisa mengendarai sepeda atau kendaraan roda dua. Masih ingatkah bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.
Masih ingatkah tentang segala hal yang dialami sebelum masa-masa indah itu bisa kita nikmati?
Saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Jatuh ke selokan, menabrak pagar rumah orang, menyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat, menabrak sepeda teman, terpeleset pasir, rem blong. Banyak luka yang terjadi: lecet dan keseleo, lutut memar, tulang kering luka dan terkelupas, sikut carut-marut, benjol juga jidat, dimarahi orang, menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.
Apakah semua kesalahan dan luka itu, membuat kita berhenti belajar naik sepeda? Mengapa? Ya! Tepat sekali. Kita ingin bisa. “The power of dream!”
Kekuatan impianlah yang membuat kita tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa. Kini, masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri.

Kok bisa ya, kekuatan impian begitu besarnya? Ini rahasianya.
Ketika kecil, kita masih polos, belum banyak dicekoki dan “diracuni” oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk. Saat itu, kita yakin dalam menyikapi segala kesalahan yang terjadi, adalah semata-mata “kesalahan teknis”.

Sejalan dengan usia dan pendidikan, kita mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini. Ternyata, tanpa disadari, kita mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu “kesalahan moral”. Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, perhatikanlah.
Jika mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan luka yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:
Apakah jika kesalahan atau luka itu terjadi, akankah: membuat kita berdosa, membuat kita masuk neraka, membuat masuk penjara, mencederai moralitas dan keyakinan kita, melukai orang-orang yang kita cintai, merugikan khalayak?

Jika jawabannya atau kita bisa menjawab “tidak”, maka segala kesalahan itu semata-mata hanya “teknis” sifatnya. Dan “kesalahan teknis” semacam ini, selalu merupakan “pembelajaran” , penting dan bernilai. Jangan berhenti.

Coba pertimbangkan hal-hal ini.
Kita mau membuka warung kelontong, dan tetangga seberang rumah sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Kita ingin sekali, tapi kita membatalkannya, karena “tidak enak hati”. Padahal di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rejeki ada yang mengatur!

Kita mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar kita memberi masukan negatif. Akankah kita berhenti? Akankah kita bilang, “apa kata orang nanti?”. Jika kita mampu menjawab “tidak”, lakukan saja!

“People often think that they’re being de-motivated by their situations. No, they’re just being disconnected from their dreams.”

Disarikan dari artikel Ikhwan Sopa, Master Trainer E.D.A.N., http://www.motivasi-komunikasi-leadership.co.cc

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta