Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for Renungan category

Sumber: sudah unknown, tapi sooo popular beredar via email n milis.
Bagi yang tau sumbernya kasih tau saya ya for saying thank you. Cerita tentang papa ini membuat saya berkaca, mengingatkan pada sosok Ayah di lain kota, yang begitu tegar n idealis.
———————————————————————————————————————————

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja di perantauan, yang ikut suaminya merantau diluar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orangtuanya akan sering sekali merasa kangen sekali dengan Mama-nya…
Lalu bagaimana dengan Papa ???
Mungkin karena Mama lebih sering menelpon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari…
Tapi tahukah kamu jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk meneleponmu ?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng…
Tapi tahukah kamu bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian ini ?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil….
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa menganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.
Tapi sadarkah kamu ?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis, merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh kita beli nanti…tapi tidak sekarang.”
Tahukah kamu Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi ?

Saat kamu sakit pilek…Papa terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah dibilang…kamu jangan minum air dingin !!!!”
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasehatimu dengan lembut.
Ketahuilah saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu…

Ketika kamu sudah beranjak remaja…
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat ijin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh !!!”
Tahukah kamu bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu ?
Karena bagi Papa kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga.
Setelah itu kamu marah pada Papa dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah….Mama.
Tahukah kamu pada saat itu Papa memejamkan matanya dan menaruh gejolak dalam batinnya…bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu…tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu…

Ketika seorang cowok mulai sering menelponmu atau bahkan datang kerumah untuk menemuimu…Papa akan memasang wajah paling cool sedunia ^___^
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua diruang tamu..
Sadarkah kamu kalau hati Papa merasa cemburu ?

Saat kamu mulai lebih dipercaya dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam, hati Papa mengeras dan Papa memarahimu
Sadarkah kamu bahwa ini karena hal yang sangat ditakuti Papa akan segera datang ?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter atau insinyur..
Ketahuilah bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa…
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain..Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu ?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu dan menyuruhmu untuk berhati-hati.
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit ait mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu, berkata : “Jaga dirimu baik-baik ya sayang…”
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi menjadi dewasa.

Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…Tidak bisa !!!”
Padahal dalam batin Papa, ia sangat ingin mengatakan : “ Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu…”
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum ?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu…
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman lelakimu datang kerumah dan meminta ijin pada Papa untuk mengambilmu darinya…
Papa akan sangat berhati-hati memberikan ijin…
Karena Papa tahu…bahwa lelaki itu yang akan menggantikan posisinya.

Dan akhirnya…….

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Papa-pun tersenyum bahagia…
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi ke belakang panggung sebentar dan menangis ?
Papa menangis karena Papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih Doanya kepada TUHAN, Papa berkata :
“Ya Allah…tugasku telah selesai dengan baik…putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik… Bahagiakanlah ia bersama suaminya”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…
Dan badan serta lengan yang tak kuat lagi untuk menjagamu dari bahaya…
Papa telah menyelesaikan tugasnya…

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu
Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal apapun.

Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang ayah hingga tugasnya selesai
Jika kamu mengalaminya, kamu adalah salah satu orang yang beruntung.
Doakan orangtuamu sekarang :

Ya Allah ya Tuhanku…
Ampunilah dosa kedua orangtuaku
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil
Amin…

Hormatilah kedua orangtuamu
Segeralah berbakti kepada mereka jika mereka masih hidup
Karena tanpa mereka kita tidak ada di dunia ini

Dari Seorang Ibu Untuk Ibunya

Ibu
Kau yang mengajari dan mengenalkanku pada dunia
kau mengajariku bagaimana tumbuh besar
kau mengajariku bagaimana menjadi seorang wanita
dan kau juga mengajariku bagaimana menjadi IBU

Ibu
Tahukah kau? Ketika aku menggendong cucumu–anakku
Terbayang 24 tahun yang lalu kau juga menggendongku
Ketika anakku membasahi bajuku dengan ompolnya
Kutau dulu diriku juga melakukan hal yang persis sama dengannya

Ibu
Ketika aku menatap wajah cucumu-anakku
Ada rasa gelisah membayangiku
Dapatkah aku membahagiakannya?
Dapatkah aku memenuhi kebutuhannya?
Apakah dia bisa tumbuh sehat ?

Ibu
Tubuhku lelah, dia terus meminta untuk disusui dan digendong
Tengah malam pun kuharus bangun untuk mengganti popoknya
Terkadang ada rasa marah dan kesal ketika dia menjatuhkan mangkuk buburnya
Bajunya kotor, bubur special buatanku terbuang percuma

Padahal dia masih bayi, aku baru mengurusnya 7 bulan semenjak dia lahir
Bagaimana denganmu yang mengurusku selama 24 tahun?

Terbayang olehku bagaimana rasa sabarmu ketika aku membuatmu sedih
Ketika aku dulu membuatmu lelah dengan segala kenakalan,
Ketika terucap banyak kata- kata yang menyakitkan hatimu
Kini kusadar

Bagaimana rasa khawatirmu
Bagaimana rasa sedihmu
Bagaimana berada diposisimu
Sebagai ibu

Mungkin aku telah menginjak-injak hatimu
Menghancurkan perasaanmu
Merobek-robek kepercayaanmu
Dengan segala khilafku

Ibu
perjuanganku sebagai orangtua baru saja dimulai
Tapi perjuanganmu belum berakhir
Selamat hari Ibu
Walau aku juga seorang ibu
Namun aku merasa belum layak untuk diberi ucapan tersebut

Ibu
Terima kasih atas segala jerih payahmu
Yakinlah bahwa pengorbananmu tak pernah percuma
Jasamu tiada berbayar dan berbalas
Love u always, mom
dari seorang ibu untuk ibunya

Sumber: (Thanks to) Dila, survive_tough_girl@yahoo.co.id

Setiap Hari adalah Istimewa

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan underwear. Dia membuka bungkusan berbahan sutra “Ini, ……”, dia berkata, ” Bukan bungkusan yang asing lagi…..” Dia membuka kotak itu dan memandang underwear berbahan sutra serta kotaknya. “Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi mengenakannya. Karena menurut dia, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan yang istimewa.”
Dia melangkah ke dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan tersebut di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal.
Dia menoleh padaku dan berkata: “JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, KARENA SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA!”
Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu.
Aku menggunakan gelas-gelas kristal kesayanganku setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya. Kata-kata “Suatu hari …..” dan “Suatu saat nanti…..” sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya. Ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.
Aku berpikir, jika mungkin dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang mengenakan underwear kesayangannya itu. Atau sehari sebulumnya dia akan menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia akan menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Mungkin dia akan pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya bersama suaminya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan kita sesali jika tak sempat kita lakukan.
Kita akan menyesalinya, karena kita tidak akan lebih lama lagi melihat orang-orang yang kita sayangi. Aku teringat orang-orang yang aku kasihi. Aku akan menyesal dan merasa sedih, jika aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka. Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup.
Dan setiap pagi, aku akan berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini adalah hari yang istimewa bagiku. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik adalah istimewa.

Sumber: milis, internet, unknown

Komunikasi Suami Istri

Ada sharing bagus dari Julia, seorang teman di milis ibubekerja. Saya postingkan di sini buat saya n teman-teman perempuan bermawas diri. Semoga kita bisa ambil hikmahnya ya..
Julia sempat berbagi cerita dengan temannya di kantor, sebut saja Pak Iwan yang sudah punya istri dan 2 anak. Pada suatu moment, karena memang selama ini mereka sering bercerita mengenai kehidupan, akhirnya Pak Iwan cerita bahwa dia ingin menikah lagi dengan perempuan lain bernama Icha. Pak Iwan tidak bercanda karena Pak Iwan sudah sering menyindir tentang hal itu, ingin berbagi tapi tidak tahu ke mana. Sebagai seorang perempuan Julia penasaran dong, kenapa sampai sebegitunya? Kenapa sih seorang laki-laki punya niatan seperti itu?…
Akhirnya Pak Iwan cerita kalau seorang suami itu butuh dilayani, butuh diperhatikan dan disayang (dinomorsatukanlah) selain dihargai sebagai seorang suami. Kadang hal-hal tersebut tidak ia dapatkan semuanya dari istri, sehingga tidak sedikit suami yang akhirnya mencari apa yang tidak dia dapat dari istrinya. Pak Iwan cerita juga punya tetangga…tiap harinya pekerjaan rumah tangga dilakukan suaminya tapi suami sepertinya nurut saja dan gak banyak omong…eh ternyata di luaran dia punya istri lagi…nah seperti itulah, bagaimanapun suami akan mencari yang tidak dia dapatkan di rumah.
Julia bilang,”Pak, saya sudah jadi seorang istri dan ternyata tidak mudah menjadi seorang “super woman” dalam arti dengan dua tangannya dalam satu waktu dia bisa menyelesaikan dengan baik semua urusan rumah tangga seperti…mencuci, ngepel, ngurus anak, masak apalagi kalau si istri sudah capek bekerja di luar…gak mudah Pak…ditambah ngurus suami pula. Memang Bapak gak kasihan sama istri dan anak, kalau menikah lagi?…Apakah sudah tidak sayang lagi sama istri?” Pak Iwan menjawab, “Sayang sih masih..tapi gimana ya.. saya suka sama Icha ..”
Julia juga dikasih lihat foto dan pesan-pesan yang ada di HP Pak Iwan, dari perempuan yang katanya tidak mau menghancurkan rumah tangga orang lain di isi SMS dari perempuan itu…tapi Pak Iwan terlanjur suka.
Julia tanya, memang gimana sih maunya seorang suami dari istrinya? Pak Iwan kasih contoh, misalnya saat suami pulang ke rumah siapkan minuman kesukaannya sambil diajak berbincang-bincang, jangan lupa sambut dengan senyum, dandan yang cantik dan harum, memasak yang enak dan utamakan untuk suami, jangan dikasih sisaan. Begitupun dengan masalah hubungan suami istri, biasanya istri tuh kalau “diajak” suka pasrah aja, padahal mungkin suami maunya isteri lebih aktif dan kreatif dalam gaya berhubungan, jangan itu-itu aja alias monoton. Kadang isteri memang sudah kecapean ngurus ini itu, sehingga lupa kewajibannya. Kalau memang kerepotan ngurus rumah tangga, suami yang baik pasti akan sediakan pembantu buatnya, yang penting ngurusin suami jangan ditinggalkan. Kalau saja setiap isteri bisa memberikan apa yang dimau suami, saya jamin gak ada tuh yang namanya perselingkuhan apalagi kawin-cerai, godaan memang akan tetap ada tapi selama istri di rumah bisa melayani dengan baik, yang di indah di luaran itu pasti akan dilupakan.

He..he.. hayoo, siapa yang lagi ingat saat malas mengurus suami, melayaninya, membantahnya, suka cemberut, ingat gak pernah masak buatnya (hiks), ingat ingat dan ingat semuanya… Kita wajib bersyukur n ngaca diri karena sudah dikaruniai seorang suami yang begitu baik, lucu, penyayang, bertanggung jawab, tampan pula he he.

Tapi boleh dong saya nambahin.. Bila dirasa pasangan kurang perhatian sebaiknya komunikasikan saja, toh pada saat awal menikah kita berkomitmen dengannya untuk menjalani hidup bersama? Berusaha menyatukan dua hati n kalau ada hambatan kan dikomunikasikan, bukannya kita lalu cari pengganti or tambahannya, he..he.. Tak mudah memang buat menyatukan n menyamakan dua pribadi. Yang diperlukan adalah komitmen, komunikasi, n saling mengerti. So let’s do the best for our family.

Thanks to Julia

Silaturrahim Yuuk..

Lagi fresh nih.. habis cuti tambahan 2 minggu, dipakai buat nge-charge semangat lagi sekalian silaturrahim ke teman-teman lama. Duh senangnya bisa saling ketemu. Ada yang sejak lulus kuliah lho gak ketemuan…
Soal haha hihi ketemuannya gak cukup deh kalo ditulis kata demi kata. Bayangin aja ketemuan yang dilembur hingga jam 4 pagi, pastilah panjang kilasan memorinya, dari A ke Z ke A lagi, ke Z lagi, he..he.. Cuman karena lagi ngerasaain manfaat silaturrahim, ya jadinya pengin nulis deh di sini. Seorang teman yang sudah jadi bos ada yang selalu mengingatkan kalo silaturrahim itu memanjangkan umur dan menambah rizki.

Dari hasil blogwalking n ngutip kajian Pak Ustadz, di dalam silaturrahim itu ada sepuluh macam manfaat nih:

1. Mendapatkan ridho Allah SWT.
2. Membuat orang yang dikunjungi berbahagia. Sabda Rasulullah SAW, “Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.”
3. Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturrahmi.
4. Disenangi oleh manusia.
5. Membuat iblis dan setan marah.
6. Memanjangkan usia.
7. Menambah banyak rizki dan berkah.
8. Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
9. Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikan orang yang suka bersilaturrahim akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.

Carilah Restu dan Doa Ibu

Wuaah….lama sekali rasanya nggak posting di blog nee… Ada curhat nih dari seorang teman, Reena tentang batalnya sebuah rencana.

Reena sudah persiapkan kepindahannya ke kota lain dengan matang, 90% siap, yang 10% nya waktu itu memang dia serahkan sepenuhnya pada Yang Di Atas. Tapi sungguh tak dinyana, ternyata faktor yang  10% ini justru mengubah garis keputusan Reena 180 derajat. Setelah Reena ikhlas dan merenung banyak tentang tidak jadinya pindah ini, dia menyadari bahwa niatnya pindah kota tidak direstui dengan ikhlas oleh kedua ibu Reena, ibu kandungnya n ibu mertuanya. Meskipun Reena memang sudah bicara sebelumnya dengan beliau-beliau, dan beralasan tidak tegar hidup di kota sekarang, meskipun semangat di kota yang baru sepertinya lebih tinggi. Namun ternyata restu dan doa ibu memang benar-benar joss di mata Allah. Reena kilas balik lagi saat bicara dengan ibu mertua tentang keinginannya pindah, beliau sudah langsung tidak setuju. Ke ibunya sendiri awalnya Reena tau beliau merestui, karena pada dasarnya yang penting Reena hepi katanya.  Apalagi ayahandanya oke melihat semangat Reena yang mulai bangkit lagi. Namun ternyata oh ternyata lagi… menurut Reena ibunya sempat terlanjur berucap “Duh kok anakku harus ke situ ya?” n waktu ditanya pendapat beliau enaknya Reena hidup di mana? Beliau menjawab kalau seandainya Reena di sini sudah bisa dapat apa yang didapatkan di kota lain itu, lebih baik tinggal tentram saja di sini. Hiks…. itulah.

Reena merasa bener-bener mengalami ridlo Allah memang tergantung pada ridlo ortu, terutama ibunda. Meski dia sempat berandai-andai, andaikan dia cerita selengkapnya ke ibu tentang semua gejolak hatinya, mungkin beliau-beliau berdoa lain untuknya. Tapi astaghfirullaah… Reena akhirnya sadari juga mungkin ini sudah jalan hidupnya, menghadapi kenyataan n yang lebih penting lagi ni.. tidak stress n cepet tua.

Jadi saya coba ambil hikmahnya ya dari kisah Reena ini … kalo punya keinginan n cita-cita besar Insya Allah mintalah doa ibu n keikhlasan hati beliau. Semoga ini juga bisa jadi pelajaran buat saya …

Terhindar Dari Rasa Takut

Berapa banyak nikmat yang Allah berikan, tidak dapat kita jemput, akibat kelemahan dan kemalasan? Itulah sebabnya mengapa kita harus meminta kepada Allah, supaya kita tidak lemah dan tidak malas. Dan kita pun, harus berlindung kepada Allah dari rasa ketakutan, dan juga kekikiran.
Hidup tidak akan ternikmati jika tercekam takut dan hidup pun akan terhina, kalau kita dikenal sebagai orang yang kikir dan takut miskin. Penting juga meminta kepada Allah, supaya terbebas dari lilitan hutang piutang, yang membuat perkataan kita mudah berdusta, yang membuat janji mudah tidak di tepati, yang membuat hidup ini semakin sempit. Apalagi, bila hutang akan menimbulkan kekerasan dari orang lain.

Ada do’a yang dipanjatkan Rasulullah, untuk mengatasi kemurungan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, paksaan, dan hutang piutang. Yaitu :
Allahuma inni a’uudzu bika minal hammi wal hazani, wa a’uudzu bika minal ajzi wa kasali, jubni wa a’uudzu bika minal wa bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatiddaini wa qahrirrijal (Do’a Rasulullah).
Artinya,“Ya Allah Aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan, dan dari ketakutan dan kekikiran aku berlindung pada-Mu dari tekanan hutang dan paksaan orang lain. Wallahu’alam
Sumber: Aa Gym

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta