Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Archives for Renungan category

Kemarin sore denger dari radio, obrolannya Pak Jamil Azzaini. Yang belum tahu, tanya om Google aja ya siapa beliau.

Ada 3 penyakit yang harus dijauhi dalam menjalankan bisnis menurut beliau:

(hhhmmm…uraiannya saya buat dengan improvisasi saya ya..)
1. Aku sudah tau

Kalau dikit2 kita bilang “aku sudah tau”, wuaa… bahaya banget.
Penyakit “aku sudah tau” tidak akan membuat kita belajar. Padahal dalam hidup kita harus banyak belajar. Belajar dari siapa pun, dari mana saja n kapan saja. Kosongkan dulu isi otak kita sebelum menerima ilmu yang baru, sehingga kita memang menjadi belum tau, bukannya “aku sudah tau”.

2. Aku mah orangnya begini

Artinya adalah orang yang gak mau berubah demi kebaikan. Pasrah tanpa usaha. Lha gimana bisa sukses ya kalau tidak mau membuka n meng-upgrade diri kita?

3. Hidup bagai air mengalir

Hidup bagai air mengalir, toh semua akan mengalir menuju ke laut. Weiiitsss… tunggu dulu yach.. Siapa bilang semua menuju ke laut? Ada kan yang menuju ke selokan atau comberan juga? Ada yang terjebak macet dengan onggokan sampah di sungai n jadi sumber penyakit n mengundang banjir?
Jadi..masihkah mau hidup bagai air mengalir?

Jangan Menunggu…

Jangan menunggu bahagia baru tersenyum
Tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia

Jangan menunggu kaya baru bersedekah
Tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya

Jangan menunggu termotivasi baru bergerak
Tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi

Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli
Tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan…

Jangan menunggu orang memahami kamu baru kita memahami dia
Tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu

Jangan menunggu terinspirasi baru menulis
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu

Jangan menunggu proyek baru bekerja
Tapi berkerjalah, maka proyek akan menunggumu

Jangan menunggu dicintai baru mencintai
Tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai

Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang
Tapi hiduplah dengan tenang, Insya Allah bukan sekadar uang yang datang

Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti
Tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti

Jangan menunggu sukses baru bersyukur
Tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu

Jangan menunggu bisa baru melakukan,
Tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

Sumber: Djoko Soelaks – Solo

Sumber: sudah unknown, tapi sooo popular beredar via email n milis.
Bagi yang tau sumbernya kasih tau saya ya for saying thank you. Cerita tentang papa ini membuat saya berkaca, mengingatkan pada sosok Ayah di lain kota, yang begitu tegar n idealis.
———————————————————————————————————————————

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja di perantauan, yang ikut suaminya merantau diluar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orangtuanya akan sering sekali merasa kangen sekali dengan Mama-nya…
Lalu bagaimana dengan Papa ???
Mungkin karena Mama lebih sering menelpon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari…
Tapi tahukah kamu jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk meneleponmu ?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng…
Tapi tahukah kamu bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian ini ?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil….
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa menganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.
Tapi sadarkah kamu ?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis, merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh kita beli nanti…tapi tidak sekarang.”
Tahukah kamu Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi ?

Saat kamu sakit pilek…Papa terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah dibilang…kamu jangan minum air dingin !!!!”
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasehatimu dengan lembut.
Ketahuilah saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu…

Ketika kamu sudah beranjak remaja…
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat ijin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh !!!”
Tahukah kamu bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu ?
Karena bagi Papa kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga.
Setelah itu kamu marah pada Papa dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah….Mama.
Tahukah kamu pada saat itu Papa memejamkan matanya dan menaruh gejolak dalam batinnya…bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu…tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu…

Ketika seorang cowok mulai sering menelponmu atau bahkan datang kerumah untuk menemuimu…Papa akan memasang wajah paling cool sedunia ^___^
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua diruang tamu..
Sadarkah kamu kalau hati Papa merasa cemburu ?

Saat kamu mulai lebih dipercaya dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam, hati Papa mengeras dan Papa memarahimu
Sadarkah kamu bahwa ini karena hal yang sangat ditakuti Papa akan segera datang ?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter atau insinyur..
Ketahuilah bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa…
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain..Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu ?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu dan menyuruhmu untuk berhati-hati.
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit ait mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu, berkata : “Jaga dirimu baik-baik ya sayang…”
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi menjadi dewasa.

Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…Tidak bisa !!!”
Padahal dalam batin Papa, ia sangat ingin mengatakan : “ Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu…”
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum ?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu…
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman lelakimu datang kerumah dan meminta ijin pada Papa untuk mengambilmu darinya…
Papa akan sangat berhati-hati memberikan ijin…
Karena Papa tahu…bahwa lelaki itu yang akan menggantikan posisinya.

Dan akhirnya…….

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Papa-pun tersenyum bahagia…
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi ke belakang panggung sebentar dan menangis ?
Papa menangis karena Papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih Doanya kepada TUHAN, Papa berkata :
“Ya Allah…tugasku telah selesai dengan baik…putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik… Bahagiakanlah ia bersama suaminya”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…
Dan badan serta lengan yang tak kuat lagi untuk menjagamu dari bahaya…
Papa telah menyelesaikan tugasnya…

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu
Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal apapun.

Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang ayah hingga tugasnya selesai
Jika kamu mengalaminya, kamu adalah salah satu orang yang beruntung.
Doakan orangtuamu sekarang :

Ya Allah ya Tuhanku…
Ampunilah dosa kedua orangtuaku
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil
Amin…

Hormatilah kedua orangtuamu
Segeralah berbakti kepada mereka jika mereka masih hidup
Karena tanpa mereka kita tidak ada di dunia ini

Dari Seorang Ibu Untuk Ibunya

Ibu
Kau yang mengajari dan mengenalkanku pada dunia
kau mengajariku bagaimana tumbuh besar
kau mengajariku bagaimana menjadi seorang wanita
dan kau juga mengajariku bagaimana menjadi IBU

Ibu
Tahukah kau? Ketika aku menggendong cucumu–anakku
Terbayang 24 tahun yang lalu kau juga menggendongku
Ketika anakku membasahi bajuku dengan ompolnya
Kutau dulu diriku juga melakukan hal yang persis sama dengannya

Ibu
Ketika aku menatap wajah cucumu-anakku
Ada rasa gelisah membayangiku
Dapatkah aku membahagiakannya?
Dapatkah aku memenuhi kebutuhannya?
Apakah dia bisa tumbuh sehat ?

Ibu
Tubuhku lelah, dia terus meminta untuk disusui dan digendong
Tengah malam pun kuharus bangun untuk mengganti popoknya
Terkadang ada rasa marah dan kesal ketika dia menjatuhkan mangkuk buburnya
Bajunya kotor, bubur special buatanku terbuang percuma

Padahal dia masih bayi, aku baru mengurusnya 7 bulan semenjak dia lahir
Bagaimana denganmu yang mengurusku selama 24 tahun?

Terbayang olehku bagaimana rasa sabarmu ketika aku membuatmu sedih
Ketika aku dulu membuatmu lelah dengan segala kenakalan,
Ketika terucap banyak kata- kata yang menyakitkan hatimu
Kini kusadar

Bagaimana rasa khawatirmu
Bagaimana rasa sedihmu
Bagaimana berada diposisimu
Sebagai ibu

Mungkin aku telah menginjak-injak hatimu
Menghancurkan perasaanmu
Merobek-robek kepercayaanmu
Dengan segala khilafku

Ibu
perjuanganku sebagai orangtua baru saja dimulai
Tapi perjuanganmu belum berakhir
Selamat hari Ibu
Walau aku juga seorang ibu
Namun aku merasa belum layak untuk diberi ucapan tersebut

Ibu
Terima kasih atas segala jerih payahmu
Yakinlah bahwa pengorbananmu tak pernah percuma
Jasamu tiada berbayar dan berbalas
Love u always, mom
dari seorang ibu untuk ibunya

Sumber: (Thanks to) Dila, survive_tough_girl@yahoo.co.id

Setiap Hari adalah Istimewa

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan underwear. Dia membuka bungkusan berbahan sutra “Ini, ……”, dia berkata, ” Bukan bungkusan yang asing lagi…..” Dia membuka kotak itu dan memandang underwear berbahan sutra serta kotaknya. “Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi mengenakannya. Karena menurut dia, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan yang istimewa.”
Dia melangkah ke dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan tersebut di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal.
Dia menoleh padaku dan berkata: “JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, KARENA SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA!”
Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu.
Aku menggunakan gelas-gelas kristal kesayanganku setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya. Kata-kata “Suatu hari …..” dan “Suatu saat nanti…..” sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya. Ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.
Aku berpikir, jika mungkin dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang mengenakan underwear kesayangannya itu. Atau sehari sebulumnya dia akan menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia akan menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Mungkin dia akan pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya bersama suaminya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan kita sesali jika tak sempat kita lakukan.
Kita akan menyesalinya, karena kita tidak akan lebih lama lagi melihat orang-orang yang kita sayangi. Aku teringat orang-orang yang aku kasihi. Aku akan menyesal dan merasa sedih, jika aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka. Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup.
Dan setiap pagi, aku akan berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini adalah hari yang istimewa bagiku. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik adalah istimewa.

Sumber: milis, internet, unknown

 
Ngantor Sambil Bisnis!

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta