<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Hatiku Patah&#8230;..</title>
	<atom:link href="http://akupastibisa.com/hatiku-patah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akupastibisa.com/hatiku-patah/</link>
	<description>Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 06:19:11 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: tomcat</title>
		<link>http://akupastibisa.com/hatiku-patah/comment-page-1/#comment-54</link>
		<dc:creator>tomcat</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 11:18:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akupastibisa.com/?p=214#comment-54</guid>
		<description>Bagus sekali nasehat dari Pak Haji. Beruntung sekali, moment kegundahan hati terbit sebelum payung pernikahan terbentang. Mungkin tidak ya...patah hatinya terjadi setelah pernikahan, baik pada isteri sendiri...atau mungkin pada orang lain (??). Terlebih lagi setelah lama menikah,seseorang baru menyadari ada sesuatu yang missing dari pasangannya, dan menemukan yang hilang itu pada orang lain. Walaupun tanpa harus &quot;take over&quot; dalam arti luas, tanpa harus berpisah ? Mungkinkah bisa mencintai seseorang tanpa ingin memilikinya? Sebab cinta tanpa syarat idealnya hanya mungkin dimiliki oleh seorang ibu untuk anak-anaknya. 

Kebetulan saya mempunyai seorang sahabat (wanita), andaikan dia hadir sebelum saya menikah...mungkin ceritanya akan lain. Namun kembali &quot; pilihan &quot; yang harus saya tentukan. Jadi saya pikir ada Grade lain dibawah &quot;mencintai&quot;..&quot;mengasihi&quot; mungkin lebih tepat dalam koridor persahabat yang &quot;sehat &amp; benar&quot;. Yang saya rasakan adalah suatu kebebasan merasakan, kebebasan memberi dan menerima, tanpa mengukur maupun mengurangi kapasitas mengasihi yang ada pada diri kami masing-masing. Rasanya begitu penuh, kaya, tanpa ketakutan akan kehilangan. Kami memberi tanpa berharap, dan menerima tanpa berhutang.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus sekali nasehat dari Pak Haji. Beruntung sekali, moment kegundahan hati terbit sebelum payung pernikahan terbentang. Mungkin tidak ya&#8230;patah hatinya terjadi setelah pernikahan, baik pada isteri sendiri&#8230;atau mungkin pada orang lain (??). Terlebih lagi setelah lama menikah,seseorang baru menyadari ada sesuatu yang missing dari pasangannya, dan menemukan yang hilang itu pada orang lain. Walaupun tanpa harus &#8220;take over&#8221; dalam arti luas, tanpa harus berpisah ? Mungkinkah bisa mencintai seseorang tanpa ingin memilikinya? Sebab cinta tanpa syarat idealnya hanya mungkin dimiliki oleh seorang ibu untuk anak-anaknya. </p>
<p>Kebetulan saya mempunyai seorang sahabat (wanita), andaikan dia hadir sebelum saya menikah&#8230;mungkin ceritanya akan lain. Namun kembali &#8221; pilihan &#8221; yang harus saya tentukan. Jadi saya pikir ada Grade lain dibawah &#8220;mencintai&#8221;..&#8221;mengasihi&#8221; mungkin lebih tepat dalam koridor persahabat yang &#8220;sehat &amp; benar&#8221;. Yang saya rasakan adalah suatu kebebasan merasakan, kebebasan memberi dan menerima, tanpa mengukur maupun mengurangi kapasitas mengasihi yang ada pada diri kami masing-masing. Rasanya begitu penuh, kaya, tanpa ketakutan akan kehilangan. Kami memberi tanpa berharap, dan menerima tanpa berhutang&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

