Sebuah Catatan Harian, Motivasi, Syukur, dan Renungan

Dari Seorang Ibu Untuk Ibunya

Ibu
Kau yang mengajari dan mengenalkanku pada dunia
kau mengajariku bagaimana tumbuh besar
kau mengajariku bagaimana menjadi seorang wanita
dan kau juga mengajariku bagaimana menjadi IBU

Ibu
Tahukah kau? Ketika aku menggendong cucumu–anakku
Terbayang 24 tahun yang lalu kau juga menggendongku
Ketika anakku membasahi bajuku dengan ompolnya
Kutau dulu diriku juga melakukan hal yang persis sama dengannya

Ibu
Ketika aku menatap wajah cucumu-anakku
Ada rasa gelisah membayangiku
Dapatkah aku membahagiakannya?
Dapatkah aku memenuhi kebutuhannya?
Apakah dia bisa tumbuh sehat ?

Ibu
Tubuhku lelah, dia terus meminta untuk disusui dan digendong
Tengah malam pun kuharus bangun untuk mengganti popoknya
Terkadang ada rasa marah dan kesal ketika dia menjatuhkan mangkuk buburnya
Bajunya kotor, bubur special buatanku terbuang percuma

Padahal dia masih bayi, aku baru mengurusnya 7 bulan semenjak dia lahir
Bagaimana denganmu yang mengurusku selama 24 tahun?

Terbayang olehku bagaimana rasa sabarmu ketika aku membuatmu sedih
Ketika aku dulu membuatmu lelah dengan segala kenakalan,
Ketika terucap banyak kata- kata yang menyakitkan hatimu
Kini kusadar

Bagaimana rasa khawatirmu
Bagaimana rasa sedihmu
Bagaimana berada diposisimu
Sebagai ibu

Mungkin aku telah menginjak-injak hatimu
Menghancurkan perasaanmu
Merobek-robek kepercayaanmu
Dengan segala khilafku

Ibu
perjuanganku sebagai orangtua baru saja dimulai
Tapi perjuanganmu belum berakhir
Selamat hari Ibu
Walau aku juga seorang ibu
Namun aku merasa belum layak untuk diberi ucapan tersebut

Ibu
Terima kasih atas segala jerih payahmu
Yakinlah bahwa pengorbananmu tak pernah percuma
Jasamu tiada berbayar dan berbalas
Love u always, mom
dari seorang ibu untuk ibunya

Sumber: (Thanks to) Dila, survive_tough_girl@yahoo.co.id

Hari Ibu Tahun Ini

Time goes fast. Ga kerasa sudah hari Ibu lagi. Pagi-pagi Taj dah ngucapin met hari ibu n bilang mau ada kejutan hadiah buat ibu nanti. He..he.. kejutan kok bilang-bilang. Rasanya ga mau nginget-inget hari Ibu sama halnya dengan ultah, karena mengingatkan lagi akan perhatian n romantisnya Kakak.
Yasud deh, biar ga larut suasana sentimentilnya, saya posting aja lirik lagu Bunda-nya Melly Guslow, Taj suka lagu ini (juga Kakak dulu..hiks..). Teriring doa buat ibu2 saya n teriring ucapan Selamat Hari Ibu buat semua perempuan Indonesia (hari Ibu jangan identik dengan arti ibu yang melahirkan anak looh… inget awalnya kan Kongres Perempuan). Maju terus, tetap berkarya n berarti bagi keluarga n masyarakat duhai perempuan Indonesia. Semoga selalu diberi kesehatan, kekuatan, n of course kebahagiaan…..

———————————————————————————————————————————-

Bunda
oleh: Melly Goeslaw

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

*
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to *

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Note: Mbak Lolo atau Bunda Elona… saya mengenalnya via milis, lebih tepatnya hanya kenal tulisan beliau yang semangat berbagi ilmu n pengalaman tentang per-ASI-an n kesehatan. Minggu lalu, putri sulung Mbak Lolo dipanggil kembali ke Sang Empunya, secara tak dinyana. Baca beritanya di sini. Baca juga tentang ketegaran Mbak Elona saat  kepergian buah hatinya.

Assalaamu alaikum Wr. Wb.

Meski secara pribadi kita belum pernah bertemu tapi saya kenal nama Mbak via tulisan2 di milis. Saya turut berduka sedalam-dalamnya ya Mbak atas dipanggilnya putri pertama Mbak. Saya merasa terpanggil untuk menulis email secara pribadi ke Mbak karena saya pernah mengalami apa yang Mbak alami, kehilangan anak pertama dalam usia yang sama (8,5 tahun ya Mbak?).

Saya terisak-isak membaca email yang ditulis Mbak di milis, sungguh saya kagum. Sampai saat ini pun (1,5 tahun anak saya meninggal), saya tak mampu menuliskan runtut seperti Mbak tulis.
Saat hari pemakamannya kita bisa begitu kuat Mbak… tapi hari yang selanjutnya adalah lebih berat. Mengenang kebiasan-kebiasaannya n kebersamaannya pada saat-saat tertentu. Banyak orang menghibur, tapi kita akan merasa n berkata “Ya iyalah… kamu nggak merasakan apa yang kurasa”. Banyak yang bilang kita telah punya istana di sorga or anak yang menunggu kita di surga, tapi kita akan bilang “Kalo boleh memilih tak dapat istana di surga pun tak apa, asal anak kita tetap bersama kita”.

Saya tahu sekali.. hari-hari ke depan akan begitu berat Mbak. Tapi jalani saja. Jangan sekali-sekali berusaha melupakan, akan sangat menyakitkan. Ingat saja kenangan bersamanya begitu kenangan itu datang melintas. Jangan kita paksa untuk menghilangkan or merenggutnya tiba-tiba.

“Selalu ada “hari pertama” Mbak yang harus kita hadapi untuk apapun di dunia ini. Buat Mbak adalah hadapi “hari pertama” tanpa ananda Khonsaa. Begitu “hari pertama” yang sungguh sangat sulit n menyakitkan itu lewat, Insya Allah kita akan lebih kuat menghadapi kehidupan berikutnya.”

Maafkan saya bila ada kata saya yang membuat Mbak bersedih. Hanya sedikit penyemangat ini saya layangkan. Saya juga tak kuasa merangkai kata lagi karena dada saya pun sesak menahan isak.

Semoga Mbak n keluarga bisa menghadapinya ya. Diberi kekuatan, ketabahan, n keihklasan selalu.

Wassalam,
Teriring Al Fatikhah dari kami buat Mbak sekeluarga n Khonsaa di surga,
Amy Amalia
http://akupastibisa.com

Saya jumpa postingan berikut pas blogwalking, ada di form komentarnya blog http://blooders.multiply.com. Saya hanya menuliskan ulang di blog ini karena Kakak (8,5 th) juga meninggal karena tumor otak (medulloblastoma) dalam usia yang hampir sama dengan Hilmy (8 th). Sebagai pengingat n berbagi, juga tau ternyata tanda-tanda tumor otak ini bisa beragam. Saya ingin bisa seperti Bp Imam Suhadi ini yang runtut menuliskan kenangan n kronologisnya, namun masih belumlah sanggup hati ini. Meski saya juga bercucuran air mata membaca kronologis dari Bp Imam di bawah ini tentang putranya, namun semoga tak mengapa, siapa tahu berguna bagi ortu lain yang mengalami seperti saya n Bp Imam Suhadi.
Berikut kutipannya:

blooders wrote on Nov 8, ‘07

Innalillahi wa inna ilayhi roji’uun…. Ananda Hilmy

Assalaamu’alaykum wr.wb
Innalillahi wa inna ilayhi raaji’uun… Telah meninggal dunia Hilmy Iman Fauzi (8thn) , putra pertama mas Imam Suhadi (TE/91, Harmony Voice,sekarang anggota Dewan Pembina DKMSU), pada hari Sabtu (3/11) Pukul 18.55 WIB di RS Sentosa Bandung. Jenazah telah dimakamkan pada hari Ahad kemarin pada pukul 9.30 WIB.

Berikut kronologi dari mas Imam:

Tanggal 17 April 2007, di bagian dalam otak Hilmy ditemukan adanya tumor sebesar telur puyuh. Akibat tumor ini saluran tersumbat cairan otak menumpuk, menekan otaknya sehingga terjadi gangguan penglihatan, juling, pusing dan muntah selama 2 minggu sebelumnya. Saat itu dokter menyarankan untuk melakukan langkah pengeluaran cairan dan memasang pipa permanen menggantikan saluran yang tersumbat (vp-shunt). Namun setelah kami coba untuk mencari second opinion, dari penjelasan dokter yang lain, kami mengetahui bahwa ada kasus tertentu dimana setelah vp-shunt, tumor memungkinkan membesar dengan cepat, mengambil rongga tempat cairan otak. Akhirnya kami memutuskan belum mem-vp shunt Hilmy dan memilih untuk merawatnya di rumah.

Dirawat di rumah keadaan Hilmy membaik. Pusing dan muntahnya hilang, juling matanya pun tidak ada lagi. Pada bulan Juni, Hilmy sudah bisa bemain ke tetangga, bisa berjalan-jalan ke Paris van Java, bahkan pergi berenang. Kami terus melakukan kontrol terhadap perkembangan peyakit Hilmy ke dokter.

Tiba-tiba awal Juli 2007 keadaannya menurun. Pendengarannya sedikit demi sedikit menghilang, demikian pula dengan penglihatannya. Kami harus menuliskan huruf demi huruf di dada Hilmy untuk dapat berkomunikasi dengannya. Keadaan ini agak membingungkan dokter, karena juling, pusing dan muntah sebagai ciri fanatik gangguan otak sudah tidak ada. Kami memeriksakan ke dokter saraf, mata dan THT, namun keadaan Hilmy belum mengalami perbaikan. Keadaan ini berlangsung begitu cepat. Awal Agustus 2007, bagian tubuh sebelah kiri Hilmy lumpuh. Sehingga ia sering tersedak ketika minum.
Namun dalam keadaan itu, ia tetap bersemangat untuk bisa kembali sembuh, mendengar dan melihat.

Tanggal 13 Agustus 2007, Hilmy kembali di ct-scan dan hasilnya menunjukan tumor yang sebelumnya posisinya di tengah, bergeser ke belakang sehingga menekan otak kecil. Saat ini dimensi tumor tidak jauh berbeda dengan hasil pemindai tanggal 17 April 2007. Akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan vp-shunt, dan kami menyetujui.
Setelah pelaksanaan vp-shunt, di ruang ICU Hilmy sempat berkomunikasi dengan ibunya. Ia bertanya sedang berada di mana, dan bagaimana kabar adiknya. Setelah itu Hilmy dipindahkan ke ruang perawatan. Di ruang perawatan kesadaran Hilmy belum kembali. Empat hari setelah itu ia sudah dapat membuka mata, menggerakan kaki dan tangannya karena pegal. Namun ia belum dapat bicara. Setelah itu ia sering mengalami kejang, seringga kembali harus diberikan obat anti kejang yang selanjutnya menyebabkannya kembali menurun kesadarannya.

Tanggal 23 Agustus 2007, Hilmy di MRI (scan) untuk persiapan pelaksanaan endoscopy. Ternyata tumor membesar sekitar 3 kali lipat dari dimensi sebelumnya. Tumor sudah menekan otak kecil, serta membengkokkan batang otak. Tampaknya kekuatiran dokter yang kami mintai pendapat April 2007 lalu,
terjadi pada Hilmy. Dokter yang menangani Hilmy menduga bahwa Hilmy berkurang kesadarannya karena tekanan tumor ke batang otak.

Setelah saya perhatikan dengan seksama, nampaknya yang dialaminya bukan kejang tetapi mengejan. Setelah agak memaksa, akhirnya dokter memberikan obat pencahar buat Hilmy. BAB (Buang Air Besar) yang sudah tersimpan lebih dari 10 hari keluar sangat banyak dan keras. Pasca BAB ini Hilmy mengalami
panas tinggi (42 c) selama 3 hari. Dokter anak yang menangani Hilmy dengan ringannya tanpa data mengatakan bahwa panas tinggi terjadi karena gangguan sentral. Tidak puas dengan diagnosa ini, saya meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan leukosit Hilmy untuk membuktikan bahwa tidak ada infeksi. Setelah hasil lab keluar, ternyata menunjukkan adanya infeksi yang besar terjadi pada Hilmy. Benar saja, berapa waktu kemudian Hilmy kesulitan bernapas, dan harus dilarikan kembali ke ICU.

Beberapa hari di ICU keadaan Hilmy membaik dan bisa kembali ke ruangan. Kami meminta kepada RS untuk mengganti dokter anak yang menangani Hilmy dengan alasan ketergesaan penegakan diagnosa dan penanganan yang keluar dari prosedur medik (selama hampir 2 minggu Hilmy berbaring, tidak diberikan inhalasi untuk pengenceran dahak). Rumah sakit menyetujui penggantian dokter. Alhamdulillah, dokter pengganti lebih analitis dan telaten.

Keadaan Hilmy semakin membaik. Respon refleksnya banyak perbaikan. Bagian tubuh sebelah kiri tidak lagi lumpuh. Ia juga bisa mendengar. Hal ini ditunjukkan dengan respon kedipan mata, jika kami ajak bicara. Permasalahan kembali muncul, pasca BAB. Suhu badang kembali meninggi selama beberapa
hari. Saya meminta dokter untuk memeriksa kemungkinan Hilmy terkena typhus. Hasil lab tubek-t keluar. Hilmy positif terkena typhus. Mungkin karena typhus ini pula, pencernaan Hilmy terganggu dan melambat. Makanan yang biasanya efektif diserap oleh perutnya, kini tidak. Pada pukul 18 sore, saat diberi makan, Hilmy muntah banyak sekali. Nampaknya ada sebagian muntahan yang masuk ke saluran napas, sehingga ia kembali panas sangat tinggi dan sulit bernapas. Muntah kembali terjadi pada pukul 24 malam. Dini hari, saat waktu sahur, keadaannya sungguh-sungguh mengkhawatirkan, sehingga ia kembali dibawa ke HCU. Napas Hilmy sangat mengkhawatirkan. Setelah di rontgent di HCU, ternyata paru-paru Hilmy mengalami infeksi yang cukup parah, serta telah terjadi pengendapan cairan dalam rongga paru-parunya.

Akhirnya Hilmy kembali ke ICU untuk diberikan bantuan napas melalui selang yang dipasang ke saluran napas (ETT). Selama 2 minggu di ICU keadaan Hilmy terus membaik. Namun pasca BAB yang banyak, ia kembali megalami penurunan keadaan napasnya. Dokter menyarankan Hilmy di tracheostomy (melubangi leher) untuk menjaga agar napas mudah dikendalikan, pengambilan dahak pun mudah. Setelah lama kami menimbang perlu tidaknya tracheostomy, akhirnya kami menyetujuinya. Malam takbiran tracheostomy dilakukan. Setelah tracheostomy keadaan Hilmy nampak membaik. Respon tubuhnya begitu menggembirakan kami. Ia sudah dapat menggenggam jari kami yang datang menjenguknya. Namun karena tensi masih tinggi, ia belum dapat dibawa ke ruangan.

Tanggal 22 Oktober 2007 Hilmy kembali BAB. Tanggal 24 Oktober 2007, Hilmy drop dan koma. Keadaan nadi turun di bawah normal, tensi, temperatur juga menurun. Paru-paru Hilmy tidak dapat bekerja, sehingga harus dibantu ventilator secara penuh.

Tanggal 25 Oktober 2007, dokter ICU memanggil saya. Ia mengatakan bahwa sudah dilakukan pemeriksaan oleh dokter saraf terhadap Hilmy, dan disimpulkan terjadi kematian batang otak. Ia menganjurkan kepada saya untuk membawa Hilmy pulang ke rumah, karena dalam pandangannya Hilmy sudah meninggal secara medis. Anjuran ini saya tolak, karena tampak masih ada nadi Hilmy. Namun dokter menyatakan bahwa nadi terjadi karena bantuan obat. Selanjutnya saya meminta dokter untuk mensupport Hilmy terus dengan sebaik-baiknya. Sore hari saya juga meminta dilakukan pemeriksaan darah untuk memastikan elektrolit darah Hilmy normal.

Tanggal 26 Oktober 2007, hasil lab keluar. Sebagian besar elektrolit darah Hilmy menurun. Secara medis, kekurangan elektolit bisa menyebabkan menurunkan kinerja organ vital tubuh, koma bahkan kematian. Setelah elektolit diperbaiki, keadaan Hilmy membaik. Hari selanjutnya ia tampak segar dan jauh membaik. Walau tensi masih drop dan belum bernapas, namun respon refleksnya sangat baik sekali.

Dari hari ke hari, dosis obat pemacu jantung ditambah. Hal ini disebabkan tensi yang selalu drop. Pada tanggal 3 November 2007, dosis obat yang diberikan Hilmy sudah 6 kali lipat dari batas dosis yang biasa diberikan kepada anak. Namun tensi Hilmy masih saja menurun. Pada pukul 11, jantung Hilmy tidak berdetak selama beberapa detik. Dokter menyangka Hilmy telah meninggal. Namun setelah dada ditekan berapa kali oleh perawat, Hilmy kembali merespon dengan baik.

Sore hari sekitar pukul 16, Hilmy kembali drop. Namun ia kembali dapat membaik pada pukul 18.25 sampai pukul 18.45. Saya tidak sanggup menyaksikan keadaan ini, sehingga memutuskan keluar ruangan ICU dan menunggu di musholla, sambil berdoa dan berserah pada-Nya, membaca berulang-ulang beberapa surat al-quran untuk menguatkan hati. Pada pukul 18.45, kembali keadaan Hilmy kembali menurun, dokter terus berusaha. Pada pukul 18.55 Hilmy tidak respon lagi ‘Innalilahi wa inna ilayhi rojiun’.

Air mata menetes lambat-lambat. Ada sedih, haru, bangga dan lega. Sedih mengenang memori kegembiraan dan kesedihan selama 8 tahun. Terharu melihat perjuangan luar biasa anak sekecil itu untuk dapat sembuh, bangga dan puas sudah menemani dan membantunya hampir 3 bulan menghadapi situasi meregang nyawa. Lega, karena sudah keluar keputusan terbaik dari Allah untuk Hilmy. Pastilah ini yang terbaik untuk Hilmy dan kami.

Ada kebahagian terselip di hati kami. Bahagia, karena janji Rasulullah saw, bahwa anak yang meninggal adalah suci bersih dan akan menjadi tabungan dan penolong orang tuanya di akhirat nanti. Kami berharap seluruh rekan-rekan berdoa.

“Alloohummaj’ alhu dzakhron liwaalidaehi, wa furuuthon wa syafii’an mujaaban, Alloohumma tsaqqil bihi mawaazinahumaa wa a’zhim bihi ujuurohumaa wa alhiqhu bishoolihi salafil mu’miniin, waj’alhu fii kafaalati Ibroohiim, waqihi birohmatika ‘adzaabal jahiim”.

Artinya : “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan bagi kedua orang tuanya dan sebagai simpanan yang akan memberi syafa’at (pembelaan) yang dikabulkan.Ya Allah, tambahkanlah dengannya, timbangan kebajikan kedua orang tuanya, perbesarlah pahala mereka, dan pertemukanlah ia dengan orang-orang
yang terdahulu dari orang-orang mukmin yang sholeh, jadikanlah ia sebagai tanggungan Ibrahim dan lindungilah ia dengan rahmat-Mu dari adzab neraka jahiim”.

Selamat jalan Hilmy. Kamu pasti akan mendapatkan teman baru rumah baru, keluarga baru, yang lebih menyenangkan bagimu.
Kalau kamu bertemu dengan Allah… Sampaikan ya, ayah dan ibu ingin masuk surga sepertimu .

5 November 2007
Imam Suhadi

Suatu kali seorang bapak yang membawa pikulan hasil bumi yang sepertinya sangat berat dibandingkan dengan postur tubuhnya yang kecil, dengan sekuat tenaga berjalan membawa pikulan itu dan menaikkannya ke atas mobil bak terbuka yang sudah menunggu.
Sesampai diatas mobil dia kembali menyandang pikulan itu dan berdiri sambil berpegangan tepat dibelakang sopir, tanpa menaruh bebannya dilantai mobil. Seorang bapak berperawakan gemuk yang duduk bersandar ke bagian depan mobil menegurnya.

“Lho pak ? Kok gak ditaruh saja dagangannya dibawah ?”
“Ah gak apa-apa. Saya kuat kok. Lagipula saya kan berdiri dekat sopir, jadi bakalan cepat sampai di pasar” jawab si bapak yang bertubuh kecil dengan bangga.

Si bapak gemuk hanya geleng-geleng kepala, sembari mengipas-ngipaskan topi ke wajahnya supaya mendapatkan angin segar dan dia bisa beristirahat.

Mobil melaju dan si bapak gemuk pun tertidur dengan hembusan angin sepanjang jalan yang membuainya dalam ‘istirahat’ sebelum sampai di pasar di mana dia akan butuh energi yang cukup untuk berdagang.

Dari deskripsi diatas terkandung analogi kejadian yang banyak kita temui dalam realita hidup ini. Kebanyakan kita bertindak seperti si bapak yang bertubuh kecil. Kita berusaha/berikhtiar sekuat tenaga, terus kita setiap habis shalat berdoa dan memohon keberhasilan usaha kita kepada Allah, tapi kenyataannya banyak diantara kita yang masih membawa beban pikiran itu sampai ke tempat tidur, bahkan tidak bisa tidur, seakan kita kurang percaya bahwa Allah akan menyempurnakan usaha dan doa kita itu dengan keberhasilan.

Tak ada salahnya kita belajar dari seorang negarawan yang harus memikirkan nasib dan permalasahan rakyat satu negara yang beraneka ragam. Alangkah ruwetnya. Ratusan juta kepala dengan ratusan juta urusan dan potensi masalah. Dibutuhkan komitmen dan kecerdasan yang di atas rata-rata untuk bisa memahami, memilah dan mendelegasikan setiap urusan dan masalah, untuk kemudian mengawasi dan berpasrah kepada Allah.

“Jangankan kepala negara. Saya aja yang pedagang biasa kepala rasanya mau pecah, jika harus memikirkan masalah saya tanpa jeda. Cek dan giro ke pemasok yang bakal jatuh tempo sementara uangnya belum ada. Daya beli dan permintaan yang kian lesu. Persaingan dari barang2 selundupan yang menbanjir. Pungutan liar yang kian menjadi2. Belum lagi isu peremajaan pasar yang bakal jadi bom waktu bagi para pegadang seperti saya, karna selalu diiringi intrik yang merugikan pihak pedagang” keluh teman saya yang bergiat di salah satu pusat perdagangan.

Kepasrahan kepada Allah menjadi kunci yang menghantarkannya pada ketenangan hati dan pikiran setiap pulang dan beristirahat. Menyadari bahwa segalanya adalah milik Allah dan segalanya terjadi juga dengan izin-Nya.

“Kalau tidak menyerahkan segala urusan pada Allah, mungkin saya tidak akan pernah bisa beristirahat dan lepas dari beban berat pikiran siang dan malam” lanjutnya.

Persis seperti si bapak bertubuh kecil yang seharusnya ketika naik ke atas mobil pick-up menaruh pikulannya, sehingga otot-otot tubuhnya bisa beristirahat dan pulih sembari menyerahkan urusan membawa pikulannya ke sopir, beristirahat mengumpulkan sedikit tambahan tenaga sebelum si sopir membangunkannya ketika sudah sampai di tujuan.

Padahal dalam keimanan kita diajarkan bahwa Allah itu hanya akan berlaku seperti apa yang hamba-Nya pikirkan. Jadi berbaik sangkalah selalu, berpikirlah positif, dan jangan sekali-kali berpikiran negatif, karena secara tidak langsung itu seperti permintaan kita kepada Allah supaya menjadikan pikiran itu sebagai takdir kita.

Bekerja dan berusahalah yang maksimal, kemudian berdoalah kepada Allah dengan taqwa dan tawakkal/berserah diri, setelah itu istirahatkan pikiran anda hilangkan gundah, gusar, cemas, ragu-ragu.
Isi pikiran anda dengan keyakinan bahwa semuanya sudah anda percayakan kepada Allah, sehingga pikiran anda bisa beristirahat atau difungsikan untuk memikirkan sesuatu usaha/urusan yang lain.
Jadi, berikhtiarlah (berusaha dan berdoa) semaksimal kemampuan dan sebaik-baiknya, dan yakinlah Allah akan menyempurnakannya.

Sumber: email seorang sahabat, thanks to Maya-Cilegon

Ibu Bekerja dan ASIX

Wuah lama ya gak update blog. After Ramadlan trus Hari Raya, bersibuk-sibuk sama Taj n my Kania. Alhamdulillaah hari ini my Kania lulus S1 ASIX alias berhasil ASI ekslusif 6 bulan. Sueneng rasanya.. secara sayanya ibu bekerja akhirnya bisa juga dengan niat yang bulat, didukung dearest hubby n semua info dari AIMI n milis AFB. Kalau boleh waktu diputar balik, ASIX juga buat Kakak n Taj. Duh.. nyesel rasanya. Karena kurang info n dukungan waktu itu (jaman kegelapan) Taj cuman ASIX 3 bulan n Kakak malah parah, sejak lahir dah kenal Sufor. Emang sih ASI juga tapi rasanya waktu itu kok wajar aja mencampur n menambahkannya dengan sufor. Ditambah lagi sayanya ibu bekerja. Bidan n dokter kok juga gak pro ASI banget, malah suka ditanyain sufor-nya apa? Padahal waktu itu kalau lagi tugas luar ya merah ASI juga, tapi kok dibuang bukannya disimpan. Walaah… Juga MPASI-nya (waktu itu emang dimulai di bulan ke-4), sering pakai bubur instan. Duh Kak n mbak Taj.. maafkan ibu ya nak. Jaman kegelapan, he..he.. Udahan ah curhatnya. Buat my Kania kali ini MPASI home made menyambutmu ya..

Membaca email salah satu teman milis membuat saya terhenyak n teringat lagi dengan almarhum Kakak yang telah dipanggil 1,5 tahun lalu, dengan diagnosa akhir tumor otak. Ternyata beda tipis antara tumor otak n AVM, so waspadalah terhadap gejala apapun itu bila ada di diri ananda.

Sekedar berbagi, namun ringkas saja (kalo kepanjangan saya belum sanggup). Berbagi dengan maksud agar bisa diambil manfaatnya buat teman lain. Mohon tidak bertanya juga lebih lanjut karena bagi kami sendiri apa penyebab meninggalnya anak saya, belum pasti. Tumor otak-kah or AVM?

Kakak waktu itu langsung muntah-muntah hebat di pagi hari n mengeluh pusing, tidak sanggup berdiri n berjalan, rasa sakit di belakang kepala. Sebelumnya tidak ada kelainan n kejadian apapun, semuanya baik-baik saja. Hanya mengeluh pusing beberapa hari sebelumnya. Dibawa ke UGD, dilakukan CT Scan, ditemukan ada gumpalan darah di otak. Diobservasi 3 hari. Di-CT scan ulang. Hasilnya gumpalan darah tidak mengecil/diserap sistem. Hingga diputuskan dilakukan pemasangan VP shunt. Pemasangan berhasil baik. Kakak kembali sadar n kondisi ingatannya juga oke sekali, tidak terganggu. Hanya saja Kakak belum bisa duduk n berdiri, pusing. Jadi hanya tiduran saja. Sempat dibawa ke RS Internasional … di Surabaya, dilakukan MRI, dan dokter ahli dari Singapore waktu itu sempat mengucap kemungkinan AVM n tumor otak. Namun sepertinya tanda-tanda AVM lebih mengedepan.
Kemudian Kakak dirawat jalan dengan Dokter SpBS di Gresik. Setelah 2,5 bulan ternyata masih pusing untuk duduk. Sesekali memang sudah duduk, tapi kata dokter semestinya sudah bisa duduk, berdiri n berjalan. Dilakukan CT Scan lagi. Sebelum hasil akhir CT Scan kami bawa ke dokter pada hari kontrol berikutnya, subuh pagi hari Kakak masih bangun minta minum. Namun jam 8 terlihat napasnya sudah satu-satu. Kamipun panik n langsung membawanya ke RS. Kondisinya waktu itu tidak sadar. Dokter melakukan pemeriksaan n membaca hasil CT Scan. Kakak sudah mengalami kematian batang otak n tinggal menunggu jantungnya berhenti berdetak atas kuasa Allah. Waktu itu hasil CT Scan menunjukkan tumor sudah menekan batang otaknya. Alhamdulillaah.. tidak sampai 24 jam, Allah memanggilnya, memutus deritanya.

So.. wallahu alam. Apa penyebab meninggalnya Kakak. Serasa belum banyak usaha yang kami lakukan, meski sudah terplanning untuk embolisasi n melakukan gamma knife di Singapore kalo itu AVM. Kini hanya ikhlas kami mengantar Kakak pergi…

BTW.. saking paranoidnya kami.. anak ke-2 kami, Taj, baru-baru ini kami CT Scan-kan (tentunya atas persetujuan SpBS yang pernah menangani Kakak dulu), karena pernah 2 kali jatuh dari ketinggian n waktu itu muntah tanpa sebab.

———————————————————————————————-

Saat Bocah Tak Mampu Menahan Beban

Sejumlah pasien anak meninggal karena pecah pembuluh darah di otak. Diduga karena tekanan psikologis, tuntutan orang tua yang kelewat besar, dan kelainan bawaan pada dinding pembuluh darahnya. Inilah yang disebut aneurisma dan arteriovenous malformation. PENYAKIT ini beraksi seperti pencuri: masuk ke rumah tanpa permisi, lalu menghilang setelah mengambil barang milik tuan rumah yang paling berharga.

Ronal, bocah sepuluh tahun yang datang ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, dalam keadaan koma, pulang tinggal nama. Ia meninggal setelah bertahan di ruang perawatan khusus selama sebelas hari. Beberapa hari berselang, masih di ruang yang sama, seorang bocah berusia empat tahun yang telah tiga bulan koma menyusul Ronal pergi.

Ronal dan tetangga kecilnya mengalami pecah pembuluh darah di otak. Keduanya sama-sama menderita aneurisma dan arteriovenous malformation (AVM), penyakit yang seakan menyerang tanpa simtom, tanpa gejala yang jelas—kecuali gejala yang sangat umum. ”Awalnya pusing-pusing, lalu muntah, langsung kami bawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong lagi,” kata ayah Ronal, yang minta agar identitasnya disembunyikan.

Kendati tak ada data angka resminya, penderita aneurisma dan AVM berusia muda hadir di beberapa rumah sakit di Jakarta. Alfred Soetrisno, ahli bedah saraf di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Jakarta, pernah mempunyai pasien anak berumur 4 , 10, dan 12 tahun.
Sebenarnya penyakit ini biasa memangsa orang dewasa di usia produktif, 30-50 tahun. Aneurisma adalah penyakit yang timbul akibat lemah atau tipisnya dinding pembuluh darah. Tak mampu menahan tekanan darah yang relatif tinggi, pembuluh darah akhirnya melebar dan menggelembung. Seiring dengan bertambahnya usia, gelembung yang awalnya kecil itu lantas membesar. Puncaknya, pembuluh yang telah menggelembung itu pecah.
Orang-orang produktif yang selalu bersaing, sering stres, namun lalai mengamati tekanan darahnya adalah sasaran empuk aneurisma dan AVM. Walhasil, manakala tekanan darah akibat stres meningkat tajam, gelembung yang tadinya kecil itu membengkak, lalu pecah. Dan ini artinya selangkah lagi sebelum kematian.

Ironisnya, stres bukan lagi monopoli orang produktif semata. Dewasa ini stres lebih cepat menghampiri anak-anak. Belum lama, di Jakarta ada kasus aneurisma dan AVM yang dipicu oleh orang tua yang sering memarahi dan menekan anak agar terus belajar. Menurut dokter spesialis jantung Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Santoso Karo-karo, ”Di bawah pengaruh stres, anak-anak juga mengkhawatirkan masa depannya, kehilangan semangat, mengeluh sakit kepala.” ”Ini memicu derasnya aliran darah.”
Maka tak jarang orang tua menganggap pecahnya pembuluh darah ini sebagai stroke pada usia dini. ”Memang kedua penyakit tersebut merupakan penyebab lain dari stroke,” ujar Alfred.

Aneurisma dan AVM ada di antara kita. Tapi sayang sekali, hampir 95 persen dari pasien yang datang ke rumah sakit, gelembungnya sudah pecah. Sedangkan lima persen sisanya ketahuan secara kebetulan. Misalnya ketika si pasien sedang check up untuk penyakit lain, lalu ketahuan ada pembengkakan pada dinding pembuluh darah otak.
Kedua penyakit itu memang bergerak seperti pencuri. Rasa pusing yang sering menandai keberadaan penyakit ini tak berbeda dengan rasa pusing yang lain. Tak diketahui, nun di bawah tempurung ini terjadi kebocoran pada dinding pembuluh darah otak, dan rembesan darah setetes demi setetes itulah yang menimbulkan rasa pusing.

Aneurisma dan arteriovenous malformation berbeda dengan, misalnya, penyakit tumor otak. Tumor otak mempunyai rangkaian gejala panjang: diawali penurunan daya tahan tubuh, kadang disertai kebutaan, bahkan kelumpuhan, dan masih banyak lagi. Tanda-tanda itu mengingatkan penderita agar cepat berobat. Hal ini tidak terjadi pada penderita aneurisma dan AVM. Dan begitu pembuluh pecah, si penderita langsung meninggal atau koma.

”Memang, di negara kita belum ada kebiasaan setiap bayi difoto kepalanya. Kalau dipotret, bisa kelihatan pembuluh darahnya, sehingga kalau diketahui ada kelainan bawaan bisa segera diatasi,” kata dokter spesialis bedah saraf Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Alfred Sutrisno.
Di negara maju, seperti Jepang dan Amerika Serikat, setiap orang sejak kecil dipindai dengan magnetic resonance imaging (MRI), sehingga aneurisma dan arteriovenous malformation dapat diketahui dan ditangani secara dini.

Aneurisma dapat dipicu oleh tekanan darah tinggi (hipertensi) dan infeksi pembuluh darah. Sedangkan AVM, menurut Alfred, merupakan penyakit bawaan, yakni kelainan pembuluh darah yang sudah didapat saat pembentukan janin. AVM terjadi karena hubungan langsung antara pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh balik (vena). ”Dalam AVM, pembuluh darah arteri langsung masuk ke sirkulasi pembuluh darah balik atau vena. Padahal pembuluh vena tidak dipersiapkan untuk menghadapi tekanan yang tinggi, jadi gampang pecah,” ujar pria kelahiran Cirebon yang mengambil jurusan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Pengobatan Aneurisma

Pasien yang datang pada stadium awal, oleh dokter, akan ditolong dengan jalan pembedahan. Dinding pembuluh darah di otak yang menggelembung itu akan diatasi dengan cara menjepit leher aneurisma. Namun, bila pasien baru datang saat sudah dalam kondisi parah, embolisasi merupakan pilihan yang akan diambil. Embolisasi adalah pemasukan bahan-bahan tertentu ke dalam aliran darah untuk pengobatan sumbatan pembuluh darah. ”Gelembung darah dipenuhi koil seperti kumparan-kumparan, supaya darahnya lancar, pembuluhnya enggak pecah lagi,” ujar dokter Alfred.
Bila si penderita aneurisma datang ke dokter sebelum dinding pembuluh darah otaknya pecah, tingkat keberhasilan upaya pembedahan cukup tinggi. Pengobatan dilakukan hanya ketika pasien masih dalam stadium awal, dan pembedahan dilakukan untuk membersihkan darah yang membanjiri otak.
Namun, jika penderita sudah telanjur parah, kemungkinan diselamatkan kecil. Embolisasi sangat baik dilakukan untuk aneurisma yang letaknya sulit atau aneurisma yang besar. Aneurisma tingkat empat sebaiknya juga ditangani dengan embolisasi, karena bila ditangani dengan operasi clipping justru akan memperberat kondisi koma penderita.
Jika aneurisma belum pecah, peluang keberhasilan operasi sangat besar, yaitu 99,9 persen, baik dengan clipping maupun embolisasi. Sedangkan untuk aneurisma yang telah pecah pada tingkat pertama dan kedua, peluang keberhasilannya 75-80 persen. Pada tingkat empat, kemungkinan berhasil fifty-fifty. Aneurisma tak bisa dianggap remeh, tak punya gejala khas, dan bisa merenggut nyawa. Walau begitu, bukan berarti tak ada peluang untuk sembuh. Syaratnya: deteksi dan penanganan sedini mungkin.

Pengobatan AVM

Pemotongan pembuluh darah yang terbelit-belit merupakan tindakan kuratif untuk semua tipe arteriovenous malformation. Walaupun hasil pembedahan didapatkan dengan segera, pemotongan AVM tetap menimbulkan risiko. ”Dibuang darahnya, sekaligus AVM-nya kita buang, kita putuskan hubungan langsung arteri dengan vena,” kata dokter Alfred.
Terapi radiasi biasanya digunakan pada daerah AVM yang lebih kecil dan terletak di dalam otak. Gamma Knife, yang dikembangkan seorang dokter Swedia, Lars Leksell, digunakan dalam radiosurgery untuk mengontrol dosis radiasi ke dalam volume otak yang terkena. Paling tidak, malformasi dapat hilang selama dua tahun.

 

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur namun bersyukurlah yang membuat kita bahagia

Meta